Filsafat Yunani mengenal prinsip "Kebenaran
ditemukan lewat Logika dan Pengamatan.", maka filsafat Kristianitas
memegang prinsip "Kebenaran ditemukan lewat Kitab Suci dan Iman."
Filsafat adalah Ilmu. Belajar filsafat
boleh dari mana saja sesuai dengan keinginan. Dari ahlinya, asal-usalnya, atau
dari sejarahnya. Berbagai macam media telah memberikan ruang terbuka untuk
belajar filsafat. Belajar filsafat dapat pula dimulai dari membaca buku,
mengikuti kursus online, menonton video edukasi, hingga kuliah formal di Pesantren
atau Perguruan Tinggi.
Membicarakan sejarah filsafat Barat
adalah seperti menelusuri aliran sungai yang panjang. Dari keingintahuan yang
jernih, melewati jeram perdebatan, dan bermuara pada samudra pemikiran yang
kita arungi. Filsafat, atau philosophia, adalah "cinta akan
kebijaksanaan".
Rentangan sejarah filsafat dapat dirunut sebagai berikut.
Gelombang pertama, harus diakui bahwa
zaman Yunani Kuno, adalah tunas dari sebuah pohon filsafat. Dunia barat mengkui
bahwa filsafat Yunani sebagai kiblat ilmunya. Mulai dari zaman sebelum
Socrates, Socrates, Plato, Aristoteles, Sinisme, Skeptisisme, Epikureanisme
sampai pada Stoisisme.
Inti dari periode ini adalah "Usaha
manusia untuk memahami dunia dan dirinya sendiri menggunakan Akal Budi (Rasio),
bukan lagi takhayul atau dongeng (Mitos)”. Dengan indikasi, dari mytos ke Logos
(cara berpikir). Mereka percaya bahwa alam semesta ini dapat dipahami oleh
pikiran manusia. Pencarian Arche (prinsip dasar atau asal usul). Mereka
mencari "bahan dasar" atau "rumus utama" pembentuk
realitas. Apakah itu air? Api? Atom? Atau dunia Ide yang tak terlihat.
Periode kedua, Filsafat dan Kristianitas.
Sejak jatuhnya kekaisaran Romawi pada abad ke-5, obor peradaban di belahan
Eropa diusung oleh Gereja Kristen. Bila pada Filsafat Yunani mengenal prinsip
"Kebenaran ditemukan lewat Logika dan Pengamatan.", maka filsafat
Kristianitas memegang prinsip "Kebenaran ditemukan lewat Kitab Suci dan
Iman." Tantangan besar para pemikir di era ini adalah: Bagaimana
mendamaikan keduanya. Apakah kita harus membuang logika demi iman, atau
sebaliknya?
Generasi ketiga adalah Awal Mula Sains
Modern. Perlu diluruskan bahwa pada masa itu, penggunaan kata sains belum ada.
Mereka lebih suka menggunakan istilah filsafat alam. Newton dan Gaileo
tak pernah menyebutkan dirinya sebagai ilmuan melainkan filsafat alam.
Kelahiran sains modern merupakan momen
ketika manusia berhenti bertanya "Apa makna hidup ini?" kepada alam,
dan mulai bertanya "Bagaimana cara kerja benda ini?".
Gelombang berikutnya adalah Rasionalisme.
Rene Descartes dijuluki Bapak Filsafat Modern. Kelahiran Perancis tahun
1596 dan meninggal 1650. Ia bukan hanya sekedar pelopor, namun ia pula yang mereset
tombol sejarah pemikiran Barat. Jika sebelumnya kebenaran bersandar pada Otoritas
(Gereja atau Aristoteles), Descartes mengubahnya menjadi bersandar pada Subjek
(Diri Manusia/Akal Budi). Bersambung…..
Sumber
bacaan:
1. The
Story of Philosophy karya Bryan Magee
2. Philosophy
101 karya Paul Kleinman

Posting Komentar untuk "Alur Perjalanan Filsafat Barat (1)"