Alur Perjalanan Filsafat Barat (1)

Filsafat Yunani mengenal prinsip "Kebenaran ditemukan lewat Logika dan Pengamatan.", maka filsafat Kristianitas memegang prinsip "Kebenaran ditemukan lewat Kitab Suci dan Iman."

Filsafat adalah Ilmu. Belajar filsafat boleh dari mana saja sesuai dengan keinginan. Dari ahlinya, asal-usalnya, atau dari sejarahnya. Berbagai macam media telah memberikan ruang terbuka untuk belajar filsafat. Belajar filsafat dapat pula dimulai dari membaca buku, mengikuti kursus online, menonton video edukasi, hingga kuliah formal di Pesantren atau Perguruan Tinggi.

Membicarakan sejarah filsafat Barat adalah seperti menelusuri aliran sungai yang panjang. Dari keingintahuan yang jernih, melewati jeram perdebatan, dan bermuara pada samudra pemikiran yang kita arungi. Filsafat, atau philosophia, adalah "cinta akan kebijaksanaan".

Rentangan sejarah filsafat dapat dirunut sebagai berikut.

Gelombang pertama, harus diakui bahwa zaman Yunani Kuno, adalah tunas dari sebuah pohon filsafat. Dunia barat mengkui bahwa filsafat Yunani sebagai kiblat ilmunya. Mulai dari zaman sebelum Socrates, Socrates, Plato, Aristoteles, Sinisme, Skeptisisme, Epikureanisme sampai pada Stoisisme.

Inti dari periode ini adalah "Usaha manusia untuk memahami dunia dan dirinya sendiri menggunakan Akal Budi (Rasio), bukan lagi takhayul atau dongeng (Mitos)”. Dengan indikasi, dari mytos ke Logos (cara berpikir). Mereka percaya bahwa alam semesta ini dapat dipahami oleh pikiran manusia. Pencarian Arche (prinsip dasar atau asal usul). Mereka mencari "bahan dasar" atau "rumus utama" pembentuk realitas. Apakah itu air? Api? Atom? Atau dunia Ide yang tak terlihat.

Periode kedua, Filsafat dan Kristianitas. Sejak jatuhnya kekaisaran Romawi pada abad ke-5, obor peradaban di belahan Eropa diusung oleh Gereja Kristen. Bila pada Filsafat Yunani mengenal prinsip "Kebenaran ditemukan lewat Logika dan Pengamatan.", maka filsafat Kristianitas memegang prinsip "Kebenaran ditemukan lewat Kitab Suci dan Iman." Tantangan besar para pemikir di era ini adalah: Bagaimana mendamaikan keduanya. Apakah kita harus membuang logika demi iman, atau sebaliknya?

Generasi ketiga adalah Awal Mula Sains Modern. Perlu diluruskan bahwa pada masa itu, penggunaan kata sains belum ada. Mereka lebih suka menggunakan istilah filsafat alam. Newton dan Gaileo tak pernah menyebutkan dirinya sebagai ilmuan melainkan filsafat alam.

Kelahiran sains modern merupakan momen ketika manusia berhenti bertanya "Apa makna hidup ini?" kepada alam, dan mulai bertanya "Bagaimana cara kerja benda ini?".

Gelombang berikutnya adalah Rasionalisme. Rene Descartes dijuluki Bapak Filsafat Modern. Kelahiran Perancis tahun 1596 dan meninggal 1650. Ia bukan hanya sekedar pelopor, namun ia pula yang mereset tombol sejarah pemikiran Barat. Jika sebelumnya kebenaran bersandar pada Otoritas (Gereja atau Aristoteles), Descartes mengubahnya menjadi bersandar pada Subjek (Diri Manusia/Akal Budi). Bersambung…..

Sumber bacaan:

1.     The Story of Philosophy karya Bryan Magee

2.     Philosophy 101 karya Paul Kleinman

Posting Komentar untuk "Alur Perjalanan Filsafat Barat (1)"