Perintah Membaca dari Paus

Membaca, adalah salah satu basis dalam membangun peradaban. Tidak salah bila perintah membaca merupakan perintah langsung yang berasal dari Tuhan. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW menerima madat yang amat berat dari sang khalik untuk pertama kalinya, dengan perintah membaca.

Tidak hanya dalam kalangan umat Islam. Instruksi membaca juga datang dari Agama Kristen. Tepatnya titah sang Paus Santo Agustinus dari Hippo. Salah satu tokoh besar dalam perjalanan sejarah Kekristenan. Bahkan, beliau bukan hanya seorang tokoh rohaniawan nomor satu, melainkan juga seorang teolog, filosof, dan tentu saja arsitek budayawan.

Paus Santo Agustinnus mendapat ilham “Tolle, lege” yang artinya Ambil dan Bacalah. Waktu itu, ia menangis dalam kegetiran, hatinya patah berantakan. Tiba-tiba terdengar suara, mirip nyanyian anak kecil. Tidak jelas apakah suara anak laki-laki atau perempuan.

Segera ia membuka Kitab Suci. Di sana ia membaca teks yang memperingatkan, agar ia tak berpesta pora dalam kemabukan, jangan nuruti percabulan dan hawa nafsu, jangan iri hati dan dengki, jangan merawat tubuhnya untuk memuaskan keinginannya, dan ia harus mengenakan pakaian Tuhan sendiri.

Dari sinilah seorang pendeta yang menjadi panutan umat kristiani bertobat. Namun, ada sebuah dorongan yang amat kuat, bagaimana ia akan bertobat bila tidak membaca. Bagaimana mungkin seorang uskup yang agung tidak pernah membaca, terutama kitab suci sebagai lembar-lembar perintah suci. Bagaimana mungkin seorang Bapa Gereja tidak mengikuti perkembangan dunia.

Ia berasal dari Afrika Utara, tepatnya di Tagaste (sekarang Aljazair). Umumnya seorang bocah yang menjelma menjadi pemuda, yang hidupnya jauh dari tata krama sebagai seorang kristiani. Hanya kecerdasan otaklah, yang membawa ia ke lingkaran gereja. Bahkan tak hanya seorang pendakwah biasa. Ia mampu menembus dinding langit dan menjadikan seorang nomor wahid dalam Agama Kristen.

Bukti bahwa ia seorang brilian dapat ditemukan tak kurang dari 900 tulisan yang tersebar dalam bentuk buku (sekitar 100), surat-menyurat dengan kolega seprofesi (kurang lebih 270) dan 500an khotbah.

Karya yang terpenting dari torehan tulis tangan antara lain: Confessiones (Pengakuan-Pengakuan) yang berisi otobiografi rohani, doa panjang yang jujur kepada Tuhan, dan sejarah. De Civitate Dei (Kota Allah) yang berisi perbandingan Kota Dunia dan Kota Tuhan, serta bagaimana ia menjawab krisis iman akibat runtuhnya Kekaisaran Romawi.

Membaca itu sesungguhnya bukan hanya sekedar memasukkan teks ke dalam dirinya. Lebih dari itu, membaca itu adalah sesuatu pergulatan yang berat.

Membaca itu seperti bermain cinta. Pecinta itu penuh gairah dan gelisah.

Bahan bacaan: “Belajar Jurnalistik dari Humanisme Harian Kompas” Karya Sindhunata.

Posting Komentar untuk "Perintah Membaca dari Paus"