UMKM yang Milenial

Tak pelak lagi bahwa revolusi industri 4.0 seperti kembang api yang menyebar ke mana-mana dan penuh warna-warni. Tak ubahnya seperti Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sektor wirausaha ini juga terkena imbas. Bagimana UMUKM 4.0 berjalan mengikuti arus jaman? Ikuti perjalanan berikut:

Revolusi Industri 1.0

James Watt adalah pemantik utama dalam jagat industri yang mengalir menjadi revolusi. Ia seorang insinyur asal Skotlandia hanya karena menyempurnakan mesin uap. Ia hanya memperbaiki mesin yang dibuat oleh Thomas Newcomen, dengan menambah kondensator sehingga jauh lebih hemat bahan bakar. Dampaknya, menjadi penggerak utama dalam Revolusi Industri di Britania Raya dan seluruh dunia.

Dengan ditemukannya mesin uap, penggilingan dapat berdiri di mana saja, tak perlu dekat dengan air terjun. Dengan mesin uap sebuah kapal dapat berjalan lebih cepat. Tak perlu menggunakan layar yang lebar, batubara ataupun kayu untuk menggerakkan mesin. Karena tenaga mesin tak perlu menggunakan otot, angin, air terjun, terjadilah penghematan biaya yang luar biasa dalam bidang produksi, transportasi, bahkan militer.

Dengan adanya revolusi industri pertama, terjadi banyak perubahan pada dunia termasuk sektor usaha. Salah satu contohnya pada produksi barang, dapat menghemat biaya karena tidak menggunakan banyak tenaga manusia dan dampaknya harga barang menjadi lebih murah.

Revolusi Industri 2.0

Memasuki awal abad ke-20, revolusi industri berikutnya ditandai dengan penemuan listrik. Semula tenaga uap dan berganti dengan tenaga listrik. Di masa itu, listrik sudah mulai masuk rumah-rumah penduduk. Akibatnya penerangan lebih mudah, alat-alat rumah tangga sudah mulai menggunakan listrik, dan muncul peluang usaha dan produksi dari rumah. Manusia tidak perlu lagi repot datang ke pabrik untuk bekerja.

Adalah Henry Ford sang penemu mobil Fors seri T. Dalam memproduksi sebuah mobil, perlu waktu yang cukup lama. Sebuah mobil dirakit dalam waktu sekitar 12 jam. Karena komponen untuk membentuk mobil masih tersebar tempatnya, sesuai dengan kebutuhan. Listrik sangat membantu meringankan perakitan mobil. Sehingga hanya dibutuhkan waktu waktu 90 an menit atas jasa listrik.

Revolusi Industri 3.0

Bila revolusi industri berakar dari mesin uap, industri kedua dikendalikan listrik, maka revolusi industri ketiga dikendalikan oleh komputer dan robot. Komputer pertama diberi nama collossum yang merupakan mesin raksasa sebesar ruang tidur. Digunakan untuk memecahkan kode buatan Nazi Jerman, dan ibutuhkan listrik sebesar 8500 watt. 

Perubahan dari Revolusi Industri 2.0 ke 3.0 menandai transformasi dari produksi massal manual-mekanis menjadi otomatisasi berbasis teknologi digital dan elektronik. Indikatornya antara lain:

Penemuan semi konduktor dan micrchip. Sehingga komponen komputer menjadi ringkas dan mungil.  Tenaga manusia mulai berkurang diganti dengan menggunakan PLC (Programmable Logic Controller) dan robotik. Mesin tidak lagi sekadar dijalankan manusia, tapi dapat diprogram untuk bekerja secara otomatis dengan konsistensi dan presisi tinggi. Tak heran bila beberapa pabrik dan perusahaan sudah mengurangi tenaga manusia atau pemutusan hubungan kerja.

Dengan ditemukannya komputer dan juga robot pada revolusi industri 3.0, banyak terjadi perubahan dalam menggunakan tenaga kasar manusia. Namun, belum bisa seluruhnya pekerjaan digantikan oleh robot. Kombnasi masih yang terbaik di era ini.

Revolusi Industri 4.0

Inilah eranya big data, dan otomatisasi dengan teknologi cyber. Angela Merkel adalah seorang politisi Jerman yang menjabat sebagai Kanselir Jerman dari tahun 2005 hingga 2021, dan dijuluki sebagai wanita yang paling berpengaruh menurut majalah Forbes. Ia mengatakan bahwa revolusi industri 4.0 merupakan asa otomatisasi sistem produksi dengan memanfaatkan teknologi dan big data.

Untuk lebih mudahnya kita kenal dengan ponsel pintar (smarthphone) yang senantiasa membuat kita terhubung dengan dunia luar selama 24 jam, tanpa jeda. Ciri-ciri utamanya:

Konektivitas dan IoT (Internet of Things). Sensor dipasang di setiap mesin dan perangkat pabrik. Mesin-mesin ini bisa saling berkomunikasi (Machine-to-Machine / M2M) dan mengirimkan data operasional secara langsung tanpa campur tangan manusia.

Pemanfaatan Big Data dan AI (Artificial Intelligence). Data raksasa yang dikumpulkan dari sensor dianalisis menggunakan kecerdasan buatan untuk pemeliharaan prediktif (predictive maintenance). Sistem bisa memprediksi kapan mesin akan rusak sebelum kerusakan itu terjadi.

Kustomisasi Massal (Mass Customization). Sistem produksi sangat fleksibel. Pabrik mampu memproduksi barang yang disesuaikan dengan permintaan khusus tiap pelanggan (custom), namun dengan kecepatan dan biaya seefisien produksi massal.

Bahan bacaan: UMKM 4.0 Strategi UKMK Memasuki Era Digital. oleh Wulan Ayodya.

Posting Komentar untuk "UMKM yang Milenial"