“Barang
siapa di akhir perkataannya mengucapkan Laa Ilahaa Illallah (Tiada Tuhan
selain Allah), maka akan masuk surga.” (H.R. Abu Dawud dan Al Hakim)
Ini adalah masa
kritis di mana nyawa akan dicabut dari jasad. Bahkan Rasulullah SAW pun
merasakan betapa beratnya sakaratul maut ini. Beliau pernah mencelupkan
tangannya ke dalam air dan mengusap wajahnya seraya berkata, "La ilaha
illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sakaratul maut (kepedihan)."
Setiap makhluk yang bernyawa
pasti akan merasakan kematian, termasuk manusia. Artinya, setiap manusia
memiliki masanya yang telah ditakdirkan dan tertulis dalam dalam Lauh
Mahfudz. Sebab itu, takdir kematian tersebut tidak akan mengenal usia muda ataupun
tua, tidak pula mengenal jenis kelamin.
Karena kematian itu merupakan
sesuatu yang sudah ditetapkan Allah, maka semua makhluk yang bernafas pasti
akan mengakhirinya. Penting bagi kita untuk mengantisipasi dan membawa bekal
yang lebih dari cukup. Bagaimana supaya pada saat ajal menjemput kita, keberadaan
kita dalam keadaan husnul khotimah (akhir yang baik). Meraih husnul khotimah
adalah impian setiap Muslim.
Di masyarakat, kita sering
menyaksikan orang yang tengah menghadapi kematian yang disebut dengan sakaratul
maut. Ada yang nampak begitu mudah, tenang, terkesan tiada beban.
Sebaliknya, tidak sedikit kita jumpai begitu menakutkan. Mata melotot, tangan
menggapai-gapai sambil mencengkeram, mulut seolah-olah mau berteriak, dan
posisi kaki tidak dapat diam, seperti orang yang tengah bergulat melawan
musuhnya.
Ada pula seseorang yang dalam
keadaan sakaratul maut, memanggil seseorang. Entah kerabat keluarga, teman ataupun
seseorang yang merasa dekat. Padahal yang dipanggil sudah meninggal. Atau
kadang kala berteriak ketakutan, karena melihat makhluk aneh yang menyeramkan, datang
menghampirinya. Perasaan semacam itu ada yang mengatakan halusinasi.
Menurut Al qurtubi dalam At
Tadzkirah, demikian juga al Ghazali menyebutkan dalam kitabnya Kasyfu
‘Ulumil Akhirah, mengatakan bahwa itu akibat setan yang memang sengaja datang
untuk membujuk manusia agar meninggal dalam keadaan su’ul khatimah (meninggal
dalam keadaan tidak baik). Ini banyak dibuktikan dalam masyarakat. Saat orang
yang akan meninggal ditalqin, yaitu dituntun untuk mengucapkan Laa
Ilaaha Illah, dia justru menolak, bahkan marah-marah. Itulah yang kita sebut
kena bujukan setan.
Husain bin ‘Audah Al ‘Awayisyah dalam kitabnya Madza Ba’dal
Maut mengatakan bahwa, setan sangat bersemangat untuk mendekati seseorang
yang sedang mendekati ajalnya. Harapannya, agar orang tersebut mengakhiri
hidupnnya dengan keburukan, kafasikan, dan kemaksiatan. Dia bujuk dengan
berbagai cara, namun kalau sudah berhasil, dia lepas tangan. (Bersambung)

Posting Komentar untuk "Sakaratul Maut (1)"