Sakaratul Maut (1)

“Barang siapa di akhir perkataannya mengucapkan Laa Ilahaa Illallah (Tiada Tuhan selain Allah), maka akan masuk surga.” (H.R. Abu Dawud dan Al Hakim)

Ini adalah masa kritis di mana nyawa akan dicabut dari jasad. Bahkan Rasulullah SAW pun merasakan betapa beratnya sakaratul maut ini. Beliau pernah mencelupkan tangannya ke dalam air dan mengusap wajahnya seraya berkata, "La ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sakaratul maut (kepedihan)."

Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, termasuk manusia. Artinya, setiap manusia memiliki masanya yang telah ditakdirkan dan tertulis dalam dalam Lauh Mahfudz. Sebab itu, takdir kematian tersebut tidak akan mengenal usia muda ataupun tua, tidak pula mengenal jenis kelamin. 

Karena kematian itu merupakan sesuatu yang sudah ditetapkan Allah, maka semua makhluk yang bernafas pasti akan mengakhirinya. Penting bagi kita untuk mengantisipasi dan membawa bekal yang lebih dari cukup. Bagaimana supaya pada saat ajal menjemput kita, keberadaan kita dalam keadaan husnul khotimah (akhir yang baik). Meraih husnul khotimah adalah impian setiap Muslim.

Di masyarakat, kita sering menyaksikan orang yang tengah menghadapi kematian yang disebut dengan sakaratul maut. Ada yang nampak begitu mudah, tenang, terkesan tiada beban. Sebaliknya, tidak sedikit kita jumpai begitu menakutkan. Mata melotot, tangan menggapai-gapai sambil mencengkeram, mulut seolah-olah mau berteriak, dan posisi kaki tidak dapat diam, seperti orang yang tengah bergulat melawan musuhnya. 

Ada pula seseorang yang dalam keadaan sakaratul maut, memanggil seseorang. Entah kerabat keluarga, teman ataupun seseorang yang merasa dekat. Padahal yang dipanggil sudah meninggal. Atau kadang kala berteriak ketakutan, karena melihat makhluk aneh yang menyeramkan, datang menghampirinya. Perasaan semacam itu ada yang mengatakan halusinasi. 

Menurut Al qurtubi dalam At Tadzkirah, demikian juga al Ghazali menyebutkan dalam kitabnya Kasyfu ‘Ulumil Akhirah, mengatakan bahwa itu akibat setan yang memang sengaja datang untuk membujuk manusia agar meninggal dalam keadaan su’ul khatimah (meninggal dalam keadaan tidak baik). Ini banyak dibuktikan dalam masyarakat. Saat orang yang akan meninggal ditalqin, yaitu dituntun untuk mengucapkan Laa Ilaaha Illah, dia justru menolak, bahkan marah-marah. Itulah yang kita sebut kena bujukan setan. 

Husain bin ‘Audah Al ‘Awayisyah dalam kitabnya Madza Ba’dal Maut mengatakan bahwa, setan sangat bersemangat untuk mendekati seseorang yang sedang mendekati ajalnya. Harapannya, agar orang tersebut mengakhiri hidupnnya dengan keburukan, kafasikan, dan kemaksiatan. Dia bujuk dengan berbagai cara, namun kalau sudah berhasil, dia lepas tangan. (Bersambung) 

Posting Komentar untuk "Sakaratul Maut (1)"