Setelah
pamannya Abu Thalib, istrinya Khadijah wafat, kesedihan Rasulullah SAW begitu
dalam. Orang yang selama ini sebagai sandaran, teman diskusi, pelindung dari
mara bahaya, pergi meninggalkan untuk selama-lamanya. Sebaliknya, orang-orang
musyrik justru bergembira melihat keadaan Rasulullah yang semakin terpuruk.
Mereka melihat beliau tidak lagi memiliki power, orangtua yang
melindungi telah tiada dan tidak lagi memiliki istri yang dapat meringankan
beban. Akhirnya Rasulullah mencari lokasi yang diperkirakan aman untuk
melangsungkan dakwahnya. Di Thaif.
Rasulullah
berharap penduduk di sana mau menerima pertolongan dan menerima misi beliau. Ternyata di kawasan yang baru tidak jauh berbeda. Perlakuan
penduduk Thaif malah semakin memprihatinkan. Mereka meluapkan amarah dan mengusir
Rasulullah, bahkan sampai pada taraf yang terkutuk. Melempari beliau dengan bebatuan.
Kala
sudah terdesak, beliau berlindung di kebun milik Uthbah bin Rabi’ah, orang
kaya di kalangan Quraish. Di sana, beliau bertemu dengan pembantunya yang menolong bernama Addas.
Melihat
kondisi yang demikian turunlah Malaikat. Saat itulah Malaikat Jibril datang
membawa Malaikat Penjaga Gunung (Malaikat Al-Akhsyabain). Mereka
menawarkan kepada Rasulullah untuk menimpakan gunung kepada penduduk setempat
atas ijin Allah SWT. Jawaban Rasulullah “Tidak usah. Aku berharap mudah-mudahan
Allah berkenan memunculkan dari kalangan mereka untuk menyembah Allah dan tidak
menyekutukan-Nya”.
Secara
perlahan, penduduk setempat diam-diam ada yang mengikuti karena pendekatan
Rasulullah dengan cara:
Mendatangi
mereka dengan penuh ketulusan.
Rasulullah
SAW berjalan kaki sejauh puluhan kilometer dari Mekkah menuju Thaif bersama Zaid
bin Haritsah RA. Beliau mendatangi para pemimpin suku Thaqif (Kinana,
Mas'ud, dan Habib) dengan harapan mendapatkan perlindungan dakwah serta
mengajak mereka menyembah Allah SWT.
Sabar
saat ditolak.
Penduduk
Thaif tidak hanya menolak ajakan beliau secara kasar, tetapi juga memprovokasi
para pemuda, budak, dan rakyatnya untuk mengusir Beliau. Mereka berbaris
membentuk barisan panjang lalu memaki dan melempar batu ke arah Rasulullah SAW
hingga kaki beliau berdarah dan Zaid bin Haritsah terluka saat berusaha
melindungi beliau.
Pasrah
seraya berdoa
Beliau
tidak mengutuk mereka. Beliau justru memanjatkan doa yang sangat mengharukan,
mengadukan kelemahan dirinya kepada Allah SWT, yang berisi pengaduan kepada
Allah, ketauhidan dan kepasrahan, pernyataan ridha dan permohonan perlindungan.

Posting Komentar untuk "Sabar dan Tawakal"