Sebagian besar ahli tafsir mengatakan bahwa Ashabul A’raf adalah orang-orang yang sama antara kebaikan dan keburukannya. Dalam hadits riwayat Imam Ibnu Marduyah, Rasulullah SAW ketika ditanya tentang tempat bagi orang yang sama antara kebaikan dan keburukannya ketika di akhirat, Allah SWT telah menakdirkan merka tidak masuk surga. Tapi karena keadilan dan Rahmat-Nya, mereka tidak masuk neraka.
Rasulullah SAW bersabda “Mereka
adalah penghuni A’raf. Mereka belum dapat memasuki surga, padahal mereka sangat
menginginkannya”. Dalam keterangan lain, Ashabul A’raf menempati suatu
tempat di antara surga dan neraka, dan mereka akhirnya akan masuk surga juga.
Secara harfiah, Ashabul A'raf
terdiri dari dua kata: Ashab (penghuni atau pemilik) dan Al-A'raf
(tempat yang tinggi atau pembatas). Dalam Al-Qur'an, khususnya Surah Al-A'raf
ayat 46-48, Ashabul A'raf merujuk pada sekelompok manusia yang pada hari
kiamat berada di sebuah tempat tinggi yang memisahkan antara Surga dan Neraka.
Siapa Merekadi Hari Kiamat?
Ibn Katsir dan At-Thabari,
menjelaskan bahwa Ashabul A'raf adalah orang-orang yang timbangan amal kebaikan
dan amal keburukannya sama berat (seimbang). Pertimbangannya adalah:
Kebaikan mereka mencegahnya masuk
Neraka, namun dosa-dosa mereka menahannya untuk langsung masuk Surga.
Dari tempat yang tinggi, mereka melihat
calon penghuni Surga lalu menyapa dengan penuh harapan ("Salamun
'alaikum"). Namun ketika pandangan mereka dipalingkan ke arah penghuni
Neraka, mereka ketakutan dan berdoa agar tidak digabungkan dengan orang-orang
zalim.
Berkat rahmat Allah SWT, pada akhirnya
mereka akan diampuni dan dimasukkan ke dalam Surga.
Quraish
Shihab dalam tafsir al Misbah menuliskan, Menentukan siapa
mereka tidaklah termasuk hal yang sangat penting untuk dibahas. Cukup kita
percaya bahwa kelak, di hari Kemudian, ada sekelompok makhluk Allah yang
ditempatkan untuk sementara antara surga dan neraka apakah dalam rangka
menyiksa dengan meresahkan hati mereka untuk sementara ataukah memberi mereka
penghormatan. Mereka yang berada di tempat itu dapat melihat, bahkan berdialog,
dengan penghuni neraka dan surga.
Bahan
bacaan:
1. “Qur’an
Mapping” karya Nur Fajri Romadhon
2. “Tafsir
al Misbah” karya M. Quraish Shihab volume 4.

Posting Komentar untuk "Ashabul A’raf"