Alur Perjalanan Filsafat Barat (2)

"Orang Inggris berjalan di atas tanah, orang Prancis berjalan di atas panggung, dan orang Jerman berjalan di atas awan."

Periode berikutnya adalah Empirisme, yang menyatakan bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi. Indra kita yang mengambil berbagai informasi mentah dari dunia dan sekitar dimulai dari gagasan dan keyakinan.

Jika Descartes adalah tokoh yang menutup mata dan menutup telinga untuk mencari kebenaran di dalam pikirannya sendiri, maka kaum Empiris adalah sebaliknya. Mereka berkata: "Buka matamu, sentuh duniamu. Tidak ada apa pun di kepalamu yang tidak melewati pintu indra.", dengan tokoh John Locke, sebagai Bapak Empirisme.

Babak keenam adalah Pra Filsuf Perancis. Ciri utama filsafat perancis adalah sastra, terlibat (engage), dan radukal. Tidak sedikit sastrawan dari perancis, seperti Jean Paul Sartre (eksistensialisme), Albert Camus, Jean Jacques Rousseau Pencerahan), Denis Diderot. Mereka menggabungkan karya sastra novel atau drama dengan pemikiran filosof yang mendalam.

Mereka jarang sekali duduk di menara gading. Mereka terlibat dengan masyarakat. Sehingga memicu terjadinya revolusi. Merkalah yang membongkar akar masalahnya.

Tahap ketujuh adalah filsafat Jerman, dengan lokomotif Immanuel Kant. Filsafat Jerman sering dianggap sebagai "Divisi Kelas Berat" dalam dunia pemikiran. Jika filsafat Prancis itu lincah dan sastrawi, filsafat Inggris itu praktis dan empiris, maka filsafat Jerman itu mendalam, sistematis, dan sangat serius.

Jerman adalah tempat "Perang Saudara" antara Rasionalisme dan Empirisme akhirnya didamaikan, tetapi juga tempat lahirnya ideologi-ideologi besar yang mengubah dunia (Marxisme, Eksistensialisme, Fenomenologi).

Karakter filsafat Jerman antara lain sistematis. Filsuf Jerman tidak suka menulis ide sepotong-sepotong. Mereka terobsesi membangun sebuah system yang utuh.

Idelaisme. "Zaman Keemasan" filsafat Jerman yang lebih dikenal sebagai German Idealism.

Mendalam dan berat. Harus diakui, filsafat Jerman itu terkenal sulit dibaca.

Gelombang kedelapan adalah Filsafat Abad XX

Mustahil memelajari filsafat modern tanpa mengetahui asal usul perkembangan filsafat. Abad ke-20 bukan sekadar urutan tahun, melainkan sebuah ledakan kesadaran. Jika filsafat sebelumnya sibuk membangun gedung-gedung sistem pemikiran yang megah dan kaku, abad ke-20 datang untuk membongkar fondasinya, memeriksa retakan di dindingnya, dan bertanya: "Apakah bahasa yang kita gunakan untuk mendeskripsikan gedung ini benar-benar valid?"

Filsafat abad ke-20, dikenal dengan filsafat kontemporer yang ditandai dengan profesionalisasi akademik. Kemunculan fenomenologi, eksistensialisme, positivisme logis dan post struktural. Era ini berfokus pada bahasa, pengalaman manusia, struktur sosial, dan kritik terhadap modernitas, dengan tokoh kunci termasuk Husserl, Heidegger, dan Wittgenstein. 

Sumber bacaan:

1.     The Story of Philosophy karya Bryan Magee

2.     Philosophy 101 karya Paul Kleinman

Posting Komentar untuk "Alur Perjalanan Filsafat Barat (2)"