“Sungguh, aku datang kepada kalian dengan membawa
bukti yang nyata dari Tuhan kalian. Maka, lepaskanlah Bani Israil (pergi)
bersamaku” (al A’raf [7]: 105)
Dalam
teks Taurat, tujuan utama, dakwah Nabi Musa selain mengajak manusia untuk
bertauhid juga membebaskan dan melepaskan status perbudakan Bani Israil dari
genggaman Fira’un. Penguasa tunggal Mesir pada waktu itu, memang mengaku
dirinya sebagai tuhan, yang berhak untuk menghidupkan dan mematikan orang.
Sayyid
Kuthb dalam bukunya “Fi Zhilal al Qur’an”, menafsirkan bahwa
ayat di atas jelas menyatakan bahwa Musa adalah seorang rasul yang meminta kepada
Fira’un agar melepaskan Bani Israil untuk menyembah Tuhan yang diinginkan,
sebagaimana mereka mempunyai agama sejak nenek moyang, yaitu Ya’kub ayah
dari Yusuf as.
Kalau
membuka kembali sejarah, maka akan ditemukan bahwa awalnya, Bani Israil datang
ke Mesir sebagai tamu terhormat pada masa Nabi Yusuf (Joseph), kemungkinan
besar saat itu Mesir dikuasai oleh bangsa Hyksos (penguasa asing). Rezim
dalam pemerintahan yang berbentuk negara atau kerajaan, bangsa Mesir asli
merebut kembali kekuasaan. Sehingga status Bani Israil berubah. Tadi merupakan
tamu agung, beralih menjadi warga biasa, atau menjadi beban dimata penguasa
baru.
Dalihnya
karena Firaun yang baru merasa terancam dengan jumlah populasi Bani Israil yang
pesat. Mereka dijadikan tenaga kerja paksa untuk membangun kota-kota perbekalan
seperti Pithom dan Rameses.
Kedudukan
sebagai warga yang dipaksa untuk melayani pemerintahan yang otoriter,
menjadikan Bani Israil hanya dijadikan budak yang hina. Maka Tuhan mengutus
seorang Rasul yang bernama Musa as. Jika dikatakan beliau hanya diutus untuk
membebaskan Bani Israil dari Mesir, maka itu adalah penyederhanaan yang kurang
tepat.
Quraish
Shihab dalam tafsirnya “al Misbah”, menulis selain tugas
utama yang termaktub di atas, Nabi Musa juga mengajarkan tentang:
Kejujuran dan
tanggung jawab rasul
Ungkapan Nabi Musa bahwa “aku tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali
kebenaran” menegaskan integritas
kenabian. Seorang rasul mustahil berdusta atas nama Allah,
meskipun menghadapi penguasa zalim seperti Fir‘aun.
Risalah berbasis
hujjah (bukti)
Nabi Musa tidak hanya menyampaikan klaim kenabian, tetapi juga datang dengan ayat-ayat yang nyata (mukjizat),
sehingga dakwahnya berdiri di atas dalil
dan kebenaran, bukan paksaan.
Hubungan tauhid
dan pembebasan sosial
Permintaan agar Fir‘aun melepaskan Bani Israil menunjukkan bahwa dakwah Nabi
Musa tidak hanya bersifat spiritual,
tetapi juga pembebasan dari penindasan.
Penolakan Fir‘aun bukan sekadar persoalan politik, melainkan penolakan terhadap
tuntutan tauhid.Keberanian moral di
hadapan kekuasaan
Bahan bacaan: “Firaun
dan Musa” karya Khalid Ali Nabhan

Posting Komentar untuk "Tujuan Utama Dakwah Nabi Musa"