Mereka menutup jalanku dengan
kitab-kitabku
Sedangkan ia tak ubahnya karib
bagiku
Jika kau mau ambillah kutabku!
Karena al Qur’an adalah tempat aku
bertumpu
Aku baca dengan tartil dalam
keindahan senandungku
Jika kau mau ambillah mushafku!
Karena dalam setiap yang nista
dalam matamu
Terpancar nur keyakinan yang selalu
membimbingku
Allah selalu menolongku dengan
payung keyakinanku
Apakah engkau manusia sanggup
menindasku?
Sebait puisi diatas adalah tulisan Yusuf
Qardhawi saat berada di penjara. Beliau menghabiskan waktu yang cukup signifikan di balik jeruji besi, terutama
pada masa mudanya di Mesir. Pengalaman penjara ini bukan sekadar catatan kaki,
melainkan peristiwa yang membentuk pemikiran dan aktivisme politiknya di
kemudian hari.
Yusuf Qardhawi ditangkap beberapa kali oleh
otoritas Mesir karena keterlibatannya dengan organisasi Ikhwanul Muslimin. Tahun
1949, Ia pertama kali dipenjara pada masa pemerintahan Monarki (Raja Faruk).
Di tahun 1954 dan 1956, Jamal Abdul Nasir, memperlakukan beliau lebih
kejam. Presiden Abdul Nasir melakukan pembersihan besar-besaran terhadap
aktifis Ikhwanul Muslimin. Tahun 1961, Ia kembali ditahan sebelum akhirnya
memutuskan untuk meninggalkan Mesir menuju Qatar.
Ada banyak tokoh dibesarkan justru lewat
penjara. Victor Frankle, seorang psikolog yang mendalami psikoanalisis.
Ia pernah disandera tentara Nazi pada perang dunia II. Dia mengalami berbagai
macam siksaan, yang kemudian hari setiap peristiwa penyiksaan dirinya dan
rekan-rekan ditulis dalam sebuah buku.
Dalam bukunya itu, tertulis “Orang yang
mampu bertahan hidup, sekeras apapun penderitaannya, adalah orang yang di dalam
dirinya terdapat sebuah ruang khusus, yaitu sebuah dunia yang mampu memberi
cita-cita yang kuat, meskipun dia menghadapi berbagai macam coban. Ruang itulah
yang memberi harapan.”
Tak mengherankan bila Ibnu Taimiyah
sanggup bertahan hidup dalam menghadapi siksaan. Bagi Ibnu
Taimiyah, penjara bukan sekadar hukuman, melainkan tempat "uzlah"
(menyendiri) untuk beribadah dan menulis. Kunci utamanya adalah hati yang
selalu bersemayam di surga.
Sumber bacaan: Ide Kecil untuk
Perubahan Besar oleh Karim Asy Syadzily

Posting Komentar untuk "Hati adalah Surga"