Wayang
bagi orang Jawa adalah ruh kedua. Di dalam wayang terkandung filosofi kehidupan
sebagai pegangan hidup yang dipercaya dari generasi ke generasi. Perjalanan
wayang merupakan langkah-demi langkah yang menyerupai rel kereta api. Besi
penopang roda kereta, tidaklah lurus satu kesatuan. Namun, terdiri atas
potongan-potongan yang tersambung satu dengan lainnya.
Ada
dua pendapat muasal wayang. Anggapan pertama mengatakan bahwa wayang lahir di
pulau Jawa, tepatnya di jawa Timur. Sedangkan kelompok kedua meyakini bahwa
wayang dari India, lahir dan besar bersama dengan agama Hindu.
G.A.J. Hazeu dan J.L.A. Brandes, berpendapat bahwa sarana atau peralatan yang
digunakan seperti: wayang, kelir, dalang, blencong dan kotak merupakan istilah
Jawa, bukan Sanskerta.
W.H. Rassers dan N. J. Krom. W.H. Rassers mengatakan bahwa wayang bukan
ciptaan dari budaya Jawa. Pertunjukan wayang di Jawa merupakan tiruan dari
India, karena di Negara ini telah lama ada permaian bayangan yang mirip pertunjukan
wayang di Jawa.
Sementara
kelompok lain menduga bahwa wayang berasal dari kebudayaan Cina Kuno, khususnya
pada masa pemerintahan Kaisar Wu Ti, sekitar 140 tahun sebelum Masehi.
Hal ini dapat ditarik kesimpulan karena kata wayang berasal dari kata Wa-yaah
(Hokian), Wo-yong (Kanton) dan Woying (Mandarin), yang
artinya bayang-bayang, yang sama dengan wayang dalam bahasa Jawa.
Wayang,
setidaknya telah dikenal di Tanah Air sejak abad ke-9 Masehi, dengan dibuktikan
penemuan Prasasti Penampihan, yang dibuat pada pada masa pemerintahan
raja Balitung sekitar tahun 820 saka atau 898 Masehi.
Prasasti
lain, menyebutkan bahwa Ada seseorang yang bernama Galigi yang berperan
sebagai dalang memainkan wayang untuk penghormatan kepada para hyang dengan mengambil
cerita Bimma Kumara. Kata-kata ini diambil dari prasasti Wukuyana tahun
906 Masehi.
Apakah
wayang itu?
Wayang
adalah boneka tiruan yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu dan sebagainya
yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama
tradisional, biasanya dimainkan oleh seseorang yang disebut dalang. Demikian
kata KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Kata
wayang, hamayang dalam Bahasa Jawa Kuna artinya bayang-bayang. Wayang berasal
dari akar kata “yang” mendapat awalan ‘wa’. Misalnya laying, dhoyong, reyog dan
sebagainya yang berarti bergerak, tidak lelap, atau samar-samar.
Munculnya
wayang ditafsirkan karena bayangan lukisan manusia yang merupakan tontonan yang
menghibur. Gambar-gambar wayang yang ditatah kemudian diberi latar kain pada
layar. Itulah yang disebut pertunjukan wayang, yang artinya melihat bayangan
(wayangan).
Bahan
bacaan: https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/wayang-asal-usul-fungsi-dan-nilai-filosofi
Posting Komentar untuk "Wayang"