Geopolitik dalam Perspektif Islam

“Wahai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (al Hujurat: 13)

Islam berdiri atas empat kaki yang saling terkait, yaitu keadilan, kemanusiaan, perdamaian, dan tanggung jawab moral. Keempat tiang tersebut telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, sebelum diangkat menjadi rasul. Darinya, kita dapat belajar bagaimana tanggung jawab seseorang dalam membangun masyarakat yang sejahtera. Bahkan, masyarakat yang dikenal atheispun, asal keempat pilar tersebut ditegakkan, akan tercipta negara yang kuat.

Tradisi ini disempurnakan oleh Islam agar seseorang atau kelompok, jangan melakukan penindasan atau eksploitasi terhadap orang lain. Berbuat sewenang-wenang, memiliki dampak yang serius dan merusak tatanan masyarakat. Tindakan ini melawan fitrah manusia, sebagai makhluk sosial, yaitu keteraan. Sebaliknya, Islam menekankan keadilan, perlindungan terhadap yang lemah, dan penyelesaian konflik melalui musyawarah serta perdamaian.

Ditengah gejolak dunia yang makin tidak menentu, kolonialismenya yang berganti baju, penjarahan terhadap negara dan bangsa lain, semuanya dapat dipelajari dengan geopolitik. Ilmu ini dipelajari agar kita dapat mengetahui mengapa ada wilayah menjadi sangat penting, sehingga diperebutkan. Mengapa antar negara mengalami konflik. Bagaimana cara mencari sahabat.

Geopolitik secara sederhana dapat dipahami sebagai cara manusia mengatur hubungan antarwilayah dan antarbangsa berdasarkan kondisi geografis, sumber daya, serta kepentingan hidup bersama. Dalam kenyataannya, geopolitik sangat memengaruhi stabilitas dunia, keamanan, dan kesejahteraan umat manusia.

Ada beberapa pokok-pokok pikiran dalam geopolitik, yang bilamana diresapi dan dilanjutkan dengan praktek nyata, maka kehidupan di dunia ini akan damai dan sejahtera. Satu masyarakat dengan masyarakat lain membangun konsep Kerjasama. Satu negara dengan negara lain saling berdampingan.

Manusia diberi mandat untuk mengelola bumi, termasuk wilayah, sumber daya, dan hubungan antarmanusia. Dalam konteks geopolitik, kekuasaan atas wilayah harus dijalankan dengan tanggung jawab, bukan perusakan.

Bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan pembagian yang proporsional. Bersuku-suku, berbangsa-bangsa, dan identitas adalah ketetapan Tuhan. Bukan menjadi alasan untuk konflik. Prinsip geopolitik, seharusnya berbasis kerja sama dan saling mengenal, bukan dominasi.

Setelah manusia diberi kekuasaan, hendahnya bergilir kepada orang lain yang mampu melaksanakan “Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki.” (Ali Imran: 26). Kekuasaan negara dan wilayah tidak bersifat mutlak, melainkan berada dalam ketentuan telah ditentukan Tuhan. Ini menjadi pengingat agar pemegang kekuasaan tidak bersikap sewenang-wenang.


Posting Komentar untuk "Geopolitik dalam Perspektif Islam"