Memprediksi Manusia Hidup di Bulan

Sumber gambar: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20221212165209-38-396164/byur-kapsul-orion-nasa-nyemplung-di-laut-pulang-dari-bulan/3


Sejak manusia turun di bulan

Berubahlah cara rayuan

Lelaki tidak mau mengatakan

Pacarnya cantik bagai bulan

Karena bulan terpijak kaki

Sehingga bulan tak cantik lagi

(Bulan – Rita Sugiarto)

Dilepas pantai San Diego, Jum'at 10 April 2026 pukul 07.07, kapsul Orion berhasil mendarat di Samudra Pasifik. Melihat empat awak dengan penuh senyum sumringah, saat itu juga impian manusia untuk menghuni di Bulan mendekati kenyataan. 

Semula tim Artemis II sempat was-was. Karena dalam misi kembali dari Bulan, Kapsul Orion memiliki kecepatan 38.600 Km/jam atau 10.7 km/detik, yang menghasilkan suhu gesekan dengan udara mencapai 2.800 derajat celcius.  

Impian manusia untuk datang dan menghuni di Bulan memang tak pernah runtuh. Meski Bulan dilupakan sejak setengah abad yang lalu, Bulan ibarat sebuah puisi. Banyak yang berangan-angan seperti Neil Armstrong, Edwin Aldrin, Michel Collins, yang untuk pertama kalinya menginjak kakinya di Bulan pada tanggal 20 Juli 1969.

Melalui misi Apollo 11, Bulan tak lagi dipandang hanya sebagai obyek langit, tetapi juga sebagai calon tempat tinggal manusia di masa depan. Dengan kemajuan teknologi antariksa dan rencana eksplorasi jangka panjang, apakah manusia benar-benar berhasrat hidup di Bulan?

Adalah Artemis II, yang merupakan misi penerbangan luar angkasa. Mereka yang terdiri dari Christina Koch, Victor Glover, Reid Wiseman, dan Jeremy Hansen. Misi ini akan menandai kembalinya manusia ke Bulan setelah misi berawak terakhir ke Bulan berlangsung pada 1972

  1. Mengapa manusia demikian getol untuk tinggal di Bulan?
  2. Letaknya dekat dengan Bumi, yang berjarak sekitar 384.400 km, sehingga relatif mudah dijangkau dibandingkan planet lain.
  3. Sebagai basis penelitian luar angkasa. Bulan dapat dijadikan tempat uji coba teknologi sebelum eksplorasi Mars dan planet lain.
  4. Sumber daya alam. Di Bulan terdapat es air (terutama di kutub), yang dapat diolah menjadi air minum, oksigen, dan bahan bakar roket. Roket ini dimanfaatkan untuk menggerakkan misi lebih jauh ke bagian luar Tata Surya.

Meski tantangannya cukup berat, teknologi yang akan menjawabnya. Para ilmuwan memprediksi manusia bisa hidup di Bulan jika teknologi berikut berhasil dikembangkan

  • Habitat tertutup (Moon Base) dengan tekanan udara buatan
  • Sistem daur ulang udara dan air
  • Pertanian luar angkasa dengan metode hidroponik
  • Perlindungan radiasi, misalnya dengan membangun tempat tinggal di bawah permukaan Bulan
  • Pemanfaatan es air Bulan (in-situ resource utilization)

Sumber bacaan: https://www.kompas.id/artikel/mengapa-manusia-kembali-ke-bulan?utm_source=link&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_android_traffic


Posting Komentar untuk "Memprediksi Manusia Hidup di Bulan"