Rasa Coklat yang Melekat

Bila dahaga menyerang, artinya pasokan air dalam tubuh menipis. Obatnya minum air putih untuk memulihkan cairan yang hilang. 60% tubuh manusia berisi air. Agar air dalam kesetimbangan karena setiap saat cadangan air keluar melalui urine, keringat, bahkan saat kita sedang bernapas, maka minum menjadi solusinya.

Minum menjadi kebutuhan pokok disamping makan. Tidak sekedar melepas dahaga. Minum bahkan menjadi bagian dari ritme kehidupan. Mulai dari jenis teh, kopi, ataupun ramuan penghangat tubuh. Tak ketinggalan coklat menjadi bagian privasi, bukan hanya rasa yang “ngangeni” tapi menjaga kondisi tubuh tetap hangat atau memilih dingin yang menyegarkan.

Nama coklat diberikan oleh seorang ahli botani terkenal bernama Carl Linnaeus pada abad ke-18. Coklat atau Theobroma cacao (Yunani Kuno) memiliki arti yang indah dan mendalam, yang artinya makanan para dewa. Dari nama ini tampak jelas bahwa minum coklat bukan hanya pelega dahaga, tapi menyangkut status.

Sampai tahun 2024, pengeksport kocklat terbesar masih dipegang Jerman (16,3%) disusul Belgia 12% dan Polandia 7,5%. Sedangkan Indonesia meski memiliki perkebunan seluas 1.370.000 hektar yang ditanam coklat belum masuk dalam jajaran pengesport.

Orang menyukai minum coklat karena faktor kimia kebahagiaan.  Adalah Daniel Peter seorang peracik minuman coklat yang dicampur dengan susu, di tahun 1876. Dia tahu bahwa coklat mengandung coklat mengandung senyawa seperti phenylethylamine dan serotonin hormon bahagia di otak dan dapat meredam stress. Disajikan dalam keadaan panas atau dingin sama nikmatnya.

Meskipun mungkin bukan minuman nomor satu bagi sebagian orang yang fanatik kopi, cokelat hampir selalu masuk dalam daftar "top 3" minuman favorit bagi mayoritas orang di seluruh dunia.

Minum cokelat kini telah bergeser dari sekadar konsumsi musiman (seperti cokelat hangat saat hujan) menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle) yang modern, estetis, dan sarat akan makna. Sama halnya dengan gelombang kultur kopi (coffee culture), cokelat kini memiliki ruang tersendiri di hati masyarakat urban.

Dulu kita mengenal minuman cokelat dari bubuk instan sasetan yang manis. Sekarang coklat naik kelas Bean-to-Bar (dari biji kakao hingga menjadi batangan/minuman). Kini mereka  bangga memesan "Minum Cokelat Berau 70%" atau "Cokelat Bali dengan notes buah" karena itu menunjukkan selera (taste) yang tinggi dan teredukasi.

Bila dulu tempat nongkrong didominasi oleh coffee shop, kini menjamur kafe yang menu utamanya adalah cokelat (cacao bar atau chocolate boutique). Tempat-tempat ini didesain sangat estetis, minimalis, dan nyaman.

Tidak semua orang dapat menoleransi kafein pada kopi karena berefek pada Kesehatan. Minum cokelat menjadi alternatif yang sangat populer bagi kelompok ini. Cokelat menawarkan rasa yang kompleks, tekstur yang mewah, dan efek penambah energi yang lembut tanpa efek samping seperti kopi.

Apakah Anda sendiri sudah mulai menjadikannya sebagai ritual harian, atau baru sebatas menikmatinya sesekali saat bersantai? 

Posting Komentar untuk "Rasa Coklat yang Melekat"