DNA dan Kriminal

 

Ada sebuah karunia Tuhan yang diberikan manusia. Sejak Nabi Adam sampai kiamat. Karunia itu adalah DNA (Deoxyribonucleic Acid). Untuk lebih memperjelas, diibaratkan bila akan membangun sebuah rumah. Perencanaan yang matang meliputi ukuran bangunan, kekuatan pondasi, kelenturan terhadap gempa, model bangunan, sampai dengan finishing. Semua tercatat rapi dan detail. Istilah modernnya adalah cetak biru (blue print).

Mulai dari rahim seorang ibu sampai pada kelahiran, seorang bayi sudah diprogram mulai dari warna rambut dan kulit, bentuk wajah, tangan sampai kaki. Kecerdasan intelektual, kelincahan motorik, kualitas emosi, dan karakter, sangat tergantung pada kualitas DNA.

Diibaratkan sebuah tangga yang panjang. Ibu Tangga (Tulang Punggung), Terbuat dari molekul gula dan fosfat. Anak Tangga (Kode) tersusun dari pasangan bahan kimia yang disebut Basa Nitrogen.

Sudah banyak yang kita ketahui tentang fungsi DNA dalam kehidupan dan Kesehatan. Marilah kita ulik, fungsi DNA dalam kehidupan kriminal. Dalam dunia kriminologi dan forensik, DNA dianggap sebagai "saksi bisu" yang paling akurat.

1. Identifikasi Pelaku (DNA Profiling)

Ini adalah fungsi yang paling umum. Melalui sampel biologis yang tertinggal di Tempat Kejadian Perkara (TKP), seperti darah, rambut, air liur, atau sel kulit, tim forensik dapat menyusun profil DNA pelaku. Profil ini kemudian dicocokkan dengan database criminal untuk melihat apakah pelaku adalah residivis. Peluang dua orang memiliki profil DNA yang sama secara acak adalah kurang dari satu berbanding satu miliar.

2. Eksklusi dan Pembebasan Orang yang Tidak Bersalah

DNA tidak hanya berfungsi untuk menjebloskan orang ke penjara, tetapi juga untuk membebaskan mereka yang salah tuduh. Jika DNA yang ditemukan di TKP tidak cocok dengan tersangka, maka tersangka tersebut dapat langsung dinyatakan tereksklusi atau tidak bersalah.

3. Identifikasi Korban (DVI - Disaster Victim Identification)

Dalam kasus kriminal yang melibatkan mutilasi, jenazah yang terbakar, atau kecelakaan massal di mana wajah tidak lagi dapat dikenali, DNA adalah metode identifikasi primer. DNA jenazah dengan sampel dari anggota keluarga inti (ayah, ibu, atau anak) untuk memastikan identitas korban.

4. Menentukan Hubungan Kekerabatan

Dalam kasus-kasus seperti pemerkosaan yang menyebabkan kehamilan atau sengketa hak asuh anak dalam ranah kriminal, tes DNA digunakan untuk membuktikan hubungan biologis antara orang tua dan anak.

5. Melacak Silsilah (Genetic Genealogy)

Teknologi terbaru memungkinkan polisi melacak pelaku melalui anggota keluarganya. Jika DNA pelaku tidak ada di database polisi, mereka mencari kecocokan parsial di situs silsilah publik.

Bahan bacaan: https://gemini.google.com dengan prompt tertentu

Posting Komentar untuk "DNA dan Kriminal"