Raflesia

Jika kita membicarakan tentang tentang Rafflesia, sebenarnya sedang membicarakan salah satu keajaiban evolusi yang paling ekstrem sekaligus aneh di dunia tumbuhan. Banyak orang salah kaprah menyamakannya Rafflesia dengan Bunga Bangkai (Amorphophallus titanum). Padahal keduanya sangat berbeda. Rafflesia adalah tanaman yang menantang hukum botani konvensional. Mengapa demikian?

Rafflesia dikategorikan sebagai endoparasit obligat. Tanaman ini tidak memiliki klorofil, sehingga ia tidak bisa berfotosintesis. Yang lebih unik, ia tidak memiliki struktur tumbuhan pada umumnya. Tidak ada daun, sehingga tidak membutuhkan cahaya matahari. Tanpa akar dan batang, hanya berupa jaringan yang mirip jamur. Hidup dalam jaringan inangnya, yaitu merambat pada tanaman merambat genus Tetrastigma.


Rafflesia berbau busuk karena ini merupakan strategi yang cedas. Bau daging busuk tersebut bertujuan untuk memikat lalat bangkai (Lucilia sp.), dengan harapan lalat akan masuk ke rongga bunga sebagai sarang bertelur. Saat bergerak, serbuk sari akan menempel punggung lalat yang akan dibawa ke bunga Rafflesia yang lain untuk berumah tangga.

Rafflesia memiliki bunga dengan diameter hingga 100 cm, dan memiliki bobot 10 hingga 11 kg. Sehingga Rafflesia sering mencuri moment kemegahan visual yang luar biasa, karena mencuri nutrisi dari inangnya.

Rafflesia adalah salah satu yang paling beragam namun terancam punah. Hingga saat ini, para ilmuwan telah mengidentifikasi sekitar 28 hingga 30 spesies yang tersebar di Asia Tenggara, terutama di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Di Indonesia sendiri, tumbuh belasan spesies Rafflesia. 


Hampir semua spesies Rafflesia saat ini berstatus Terancam Punah (Endangered) atau Sangat Terancam Punah (Critically Endangered). Hal ini dikarenakan ketergantungan mereka yang sangat tinggi pada tumbuhan inang (Tetrastigma) dan siklus hidupnya yang sangat rapuh.


Sumber bacaan: https://www.tempo.co/prelude/tanaman-langka-raflesia-dalam-angka-2096574









Posting Komentar untuk "Raflesia"