![]() |
| sumber gambar: https://allofresh.id/blog/resep-kaldu-ayam/ |
Acapkali
kaldu menjadi penentu kenikmatan suatu makanan. Lauk yang telah dipilih dari
berbagai macam, menjadi hambar setelah diguyur kaldu yang tidak mendukungnya.
Memang tampilan belum tentu mewakili rasa yang diinginkan. Beberapa kali kita
merasakan terlalu manis, asin atau hambar tiada rasa. Disinilah sang penyaji harus
pandai-pandai memadukan rasa kaldu dengan lauk lainnya.
Ibu
rumah tangga yang baik, selalu memasak kaldu andai ada anggota keluarga yang
sedang tidak sehat. Makanan ini cukup ampuh untuk mengembalikan stamina. Masakan
yang berkuah ini juga memudahkan mendorong makanan agar cepat masuk
kerongkongan.
Cuaca
yang dingin seperti, kaldu berperan sebagai penggugah selera. Pilihan makanan
berkuah sangat pas untuk menghangatkan tubuh. Dihidangkan diwaktu sore atau
malam tetap saja terasa nikmat. Dipercaya bahwa citra rasa kaldu dapat membuat
suasana menjadi rilek.
Beberapa
hari selepas hari raya Idul Adha, sisa tulang menjadi pilihan untuk tidak
melupakan makanan yang berkuah. Daging yang masih menempel di tulang, diyakini sebagai
inti rasa kaldu. Apalagi sumsum yang tergeletak di kerongkongan tulang. Kata
orang menambah ketebalan rasa. Kandungan asam amino dan mineral dari daging
yeng larut di dalam air rebusan semakin menambah sensasi.
Sampai
disini belum cukup, kalau hanya mengandalkan kuah saja. Kaldu baru terasa nikmat
kalau ditaburi rempah yang pas. Ada banyak pilihan bumbu yang tersedia. Namun
memetik langsung dari kebun, akan berbeda rasa originalitasnya. Biasanya,
seorang ibu akan secara otomatis meracik bumbu sesuai pengalaman atau
kebiasaan. Memasak kaldu disesuaikan dengan daging yang tersedia. Penikmat,
hanya akan menambah garam, kecap atau penyedap lainnya untuk memantapkan rasa.
Kaldu,
telah menapaki usia ratusan tahun. Kaum pendahulu kita memasak kaldu dari wadah
tembikar keramik. Hampir setiap bangsa memiliki alat masakan tersebut. Di
daerah Asia, tembikar telah ditemukan dua puluh ribu tahun yang lalu. Meski
teknologinya sederhana, namun tembikar tetap dapat menunjukkan kebudayaan yang
lebih maju.
Sekarang
ini, panci menjadi pilihan untuk memasak kaldu dengan pertimbangan kepraktisan.
Sop buntut dengan kacang merah adalah salah satu masakan yang juga mengandalkan
cita rasa kaldu yang kaya. Sop buntut juga masih menjadi pilihan utama bila
akan membeli makanan di pinggir jalan atau warung khusus. Pecinta kesegaran tak
pernah melewatkan sop buntut.
Ikan
Pallumara atau sup kepala ikan menjadi salah satu makanan khas Makassar
dan sekitar Sulawesi selatan. Mereka memanfaatkan lautan yang luas sebagai
sumber makanan. Bahkan, sup ini menjadi makanan pokok. Namun sekarang
dimanfaatkan untuk wisata kuliner andalan, selain Coto Makasar, Konro, atau Es
Pisang Ijo. Sup kepala ini masih bertumpu pada cita rasa gurih dari kaldu ikan.

Posting Komentar untuk "Kaldu yang Syahdu"