Belajar Agama itu harus langsung dengan
ulama', dengan ahlinya. Belajar Agama itu harus sepanjang hayat. Tidak boleh
berhenti, meski fisik sudah lemah. Karena Agama itu dinamis. Tidak stagnan atau
mandek. Setiap masa ada problematikanya tersendiri, dan agama harus mampu
menjawabnya.
Saya belajar Agama sejak usia dini. Lingkungan
keluarga dan masyarakat sangat mendukung. Orang bilang, desaku adalah desa
santri. Desaku berdekatan dengan pesisir utara, meski sebenarnya masih jauh
juga. Namun pengaruh budaya pesisir masih sangat kental.
Masyarakat saling mendukung, atau bahkan
sangat menuntut pola kehidupan yang islami. Banyak ragam komunitas yang
terbentuk, tapi tetap mengacu perlaku yang agamis. Komunitas-komunitas yang terbentuk
dari masyarakatpun begitu kental. Satu dengan lainnya saling menguatkan.
Didukung oleh budaya agraris, yang mengandalkan pola hidup gotong royong,
menambah kerekatan masyarakat.
Cita-cita saya, antara lain memiliki
buku tafsir al Qur'an secara lengkap. Keinginan ini sebenarnya sudah lama,
namun baru terwujud tahun ini. Memang sabar menunggu ditengah himpitan
kebutuhan yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Tafsir al Misbah karya
cendekiawan Muslim sekaligus ulama' Prof. Dr. M. Quraish Shihab, menjadi
incaranku. Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu, nadzar itu terpenuhi.
Keunggulan Tafsir Al-Misbah, karena menggunakan bahasa yang
mudah dipahami, kontekstual dengan masyarakat Indonesia, dan berfokus pada
tujuan "membumikan Al-Qur'an". Keunggulan utamanya meliputi pendekatan tahlily (analisis
ayat) yang menonjolkan korelasi antar ayat/surat (munasabah),
corak adabi ijtima'i (kemasyarakatan), dan referensi dari
berbagai tafsir mu'tabar
Sebelumnya, saya telah memiliki
buku-buku karya beliau. Buku tersebut tersimpan dengan rapi dalam almari
perpustakaanku. Buku ini sering menjadi acuan dalam saya menulis, utamanya
tentang tulisan spiritual. Demikian pula, saat harus naik mimbar, saya
mempersiapkan diri dengan membaca bukunya.
Saya sebenarnya juga ingin sekali
meneruskan kebiasaan Ayah saya, yaitu mengumpulkan buku Tafsir al Qur'an, al
Azhar karya Prof. Dr. Hamka. Keinginan ini masih terpakudalam niat
ku. Beberapa buku tafsir tersebut masih ada dalam deretan buku, meski hanya
beberapa jilid saja. Tafsir al Azhar juga sebagai referensi.
Saya juga pernah mencoba untuk
mengumpulkan buku buku Tafsir al Maraghi karya Ahmad Mustafa Ibn
Musthafa Ibn Muhammad Ibn Abd al-Mun’im al-Qadhi al-Maraghi. Seorang pakar
ilmu Balaghah dan Kebudayaan. Puncak karier beliau menjadi Rektor di
Universitas al Azhar, Kairo, Mesir. Beliau
dikenal sebagai tokoh moderat yang berusaha mendekatkan pemahaman al-Qur'an
melalui bahasa yang mudah.
Dari pengalaman mengumpulkan buku-buku tersebut, berujung pada sebuah kesimpulan, bahwa mengumpulkan buku tafsir ataupun buku yang berjilid lainnya harus tahan uji. Harus tahan godaan. Harus punya itikad yang sangat kuat. Jangan lupa harus punya target, pada suatu waktu harus terpenuhi. Tanpa itu semua, tidak mungkin kaingin akan terwujud.

Posting Komentar untuk "Tafsir al Misbah"