Keutamaan Posisi Tengah

Filosof Yunani Aristoteles, melontarkan gagasan yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan “Jalan Tengah yang Emas” (The Golden Mean). Hingga kini konsep tersebut terus dipakai. Menurut Aristoteles, “Kebajikan” (Virtue atau Areta), bukanlah lawan dari keburukan. Kebajikan adalah titik keseimbangan yang ideal antara dua kutub ekstrim yang sama-sama merusak. Dikalangan para filosof dikenal dengan istilah “keutamaan atau puncak kebajikan berada di posisi tengah antara dua keburukan”.

  • Akal adalah posisi tengah antara kelicikan dan kedunguan
  • Keberanian adalah posisi pertengahan antara rasa takut dan ceroboh
  • Ketenangan adalah posisi pertengahan antara amarah dan kelemahan kepribadian
  • Kelapangan dada adalah posisi pertengahan antara pelampiasan amarah yang menggebu dan ketidakmampuan marah
  • Kecucian adalah posisi pertengahan antara ketamakan dan hiperseks dengan impotensi
  • Rendah hati adalah posisi pertengahan antara keangkuhan dan rendah diri

Meski demikian, ada sekian banyak posisi tengah yang benar-benar tidak di tengah-tengah. Misalnya kebenaran. Karena kebenaran hanya ada dua kutub yaitu kebenaran dan kebatilan. Keadilan juga tidak berada di tengah persis. Karena keadilan hanya bersanding dengan kezaliman.

Menjadi orang baik bukan berarti bertindak ekstrem demi sebuah prinsip. Kebaikan ditemukan di tengah-tengah. Namun, "jalan tengah" ini tidak statis seperti rumus matematika. Titiknya dapat bergeser tergantung situasi, orang yang dihadapi, dan tujuannya.

Menariknya, konsep Golden Mean dari Yunani ini memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan konsep Ummatan Washatan. Keduanya sama-sama melihat bahwa jalan terbaik dalam hidup, moral, dan spiritualitas adalah dengan menghindari sikap ekstrem dan memilih jalan keseimbangan yang adil.

Dalam khasanah Islam, kedudukan di tengah lebih dikenal dengan wasathiyah, atau Islam tengahan. Islam moderat, wasathiyah, tengahan telah menjadi rujukan umum baik di dunia Islam maupun universal, meskipun di dalamnya masih terjadi kontroversi atau perbedaan istilah.

Abbas Mahmud al ‘Aqqad misalnya, seorang cendekiawan Mesir mengkritik bahwa posisi pertengahan yang disebutkan di atas, hanya berdasarkan tolok ukur matematis, dengan mengabaikan faktor psikologi dan nilai ruhani.

Namun demikian, Islam moderat tela menjadi titik tolak pemikiran Islam sebagaimana ‘Ummatan Wasatha” (QS al Baqarah: 143) demi membawa rahmatan lil ‘alamin (QS al Anbiya: 107).

Tanggal 1 Mei 2018, Indonesia dikukuhkan sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam Moderat melalui Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Islam Wasathiyah yang diikuti oleh 100 ulama dan cendekiawan Muslim manca negara di Bogor, Jawa Barat.  

Bahan bacaan

“Yang Hilang dari Kita: Akhlak” karya M. Quraish Shihab

“Gerakan Islam Berkemajuan” karya Haedar Nashir 

Posting Komentar untuk "Keutamaan Posisi Tengah"