Karena di Sekolah ada kegiatan sampai sore, seorang ayah yang menjemput anaknya juga pulang sampai agak larut malam. Namun sebelum sampai rumah, ayah mengajak anaknya untuk memesan nasi goreng agar sampai di rumah tak perlu lagi makan malam.
Disaat
penjual sedang menyiapkan masakannya, terjadi dialog antara ayah dan penjual.
"Berapa
sehari dapatnya, Pak?"
"Engga
tentu, Pak."
"Kira-kira
rata-rata berapa sehari?"
"Sejuta."
"Kira-kira
untungnya berapa?"
"Ya...
tiga ratus ribu bersih."
"Terus
dari mana modal awal dari usaha ini?"
"Dari
teman dan ditambah tabungan dari hasil nguli."
“Temannya
kasih begitu saja modalnya?'
"Lah...
tidak Pak. Saya pinjem. Istilahnya pinjam 10 balik 12."
"Jaminannya
apa?"
"Kagak
ada. Dia percaya aja sama saya. Habis udah teman lama."
"Untuk
apa saja modal itu?"
"Beli
gerobag, kuali, kompor gas, piring, sendok, dan modal beli bahan."
"Udah
balik modalnya?'
"Udah
kapan tahu...."
Begitu
masakan tersaji lengkap dengan dua gelas minum, tampak kedua orang itu
menikmati nasi goreng dengan lahapnya.
Setelah
usai, ayah ngobrol atau tepatnya menasehati kepada anaknya.
"Kamu
tahu Nak, pedagang nasi goreng itu telah menerapkan prinsip kewirausahaan.
Modal didapatnya dari teman. Untuk dapat dipercaya teman itu tidak mudah, Nak.
Untuk itu kamu harus berkelakuan baik sehingga membuat dia dipercaya. Ingat,
kepercayaan itu identik dengan cinta, dan untuk itu kamu harus merebut
cinta."
“Kalau
cinta diibaratkan sebuah rumah, maka kepercayaan adalah pondasinya. Untuk benar-benar mencintai seseorang, kita
harus berani membuka diri sepenuhnya. termasuk menunjukkan kelemahan,
ketakutan, dan rahasia terdalam kita.”
"Pedagang
nasi goreng itu sedari awal sudah punya niat untuk berwirausaha. Karena dia
menabung. Tentu gaya hidupnya sudah terbentuk. Dia hemat tanpa menghamburkan
pendapatannya untuk konsumsi. Manakala kesempatan untuk berwirausaha ada di
tangannya, dia bekerja keras untuk memastikan usahanya berkembang sehingga
mengembalikan modal pinjaman.
Sumber
bacaan: “Cintaku Negeriku” karya Erizal Bandaro

Posting Komentar untuk "Mengajarkan Entertainment kepada Anaknya"