Cengkeh

 

Cengkeh (Syzgium aromaticum) adalah tumbuhan asli Indonesia, dan hanya dapat tumbuh serta berkembang baik di Indonesia. Rempah berbentuk seperti kuku ini telah dikenal luas sejak ribuan tahun lalu. Orang China mengenal sebagai rempah kuku (tiang-han), orang Barat mengenal cloves yang berasal dari kata claw yang merujuk bentuk cengkeh yang menyerupai cakar.

Komunditas bernama cengkeh ini (bersama pala) yang menjadi sumber penjajahan Nusantara oleh para penjelajah dan penaklukan dari China, Arab, dan Eropa. Kolonialisme Asia sesungguhnya dimulai dari pencarian, penemuan, dan penguasaan tanaman eksotik dari Kepulauan Maluku ini. Selama berabad-abad komoditas berharga diberebutkan oleh bangsa-bangsa asing. Mari kita lihat peristiwanya

Tahun 1494, setelah ekspedisi Columbus, otoritas gereja katolik di bawah Paus Alexander mengeluarkan keputusan membagi wilayah kekuasaan untuk Spanyol dan Portugis.

Tahun 1497, Vasco da Gamma mendapatkan tugas dari Raja Imanuel I Portugis membawa misi agama dan rempah

Tahun 1519, Fernando Magellan berangkat ke Kepulauan Rempah atas dukungan Spanyol. Ia menjadi orang Barat pertama yang menginjakkan kaki di Kepulauan Rempah.

Tahun 1529, Spanyol menukarkan klaim Kepulauan Rempah dengan sejumlah uang kepada Portugis.

Tahun 1579, Sir Francis Drake berhasil mencapai Kepulauan rempah, serta membuat kesepakatan dagang Sultan Baabullah, Tarnate. Keberhasilan ini menginisiasi pendirian East India Companie

Tahun 1602, Pendirian Vereenigde Oost Indische Companie (VOC) sebagai pemegang hak monopoli serta hak eksekutif dan semacam kedaulatan dari Kerajaan Belanda.

Tahun 1607 Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) memegang hak monopoli atas cengkeh.

Tahun 1627, Gubernur Jenderal VOC, Pieterszoon Coen, memerintahkan pembumihangusan cengkeh dan pala kecuali di Ambon dan Leasse demi menjaga harga. Harga 1 pon cengkeh sebanding dengan 7 ons emas. Pundi-pundi uang dari cengkeh mengalir deras ke kas kerajaan Belanda selama lebih satu setengah abad.

Tahun 1770, Pierre Poivre, seorang berkebangsaan Perancis, dibantu juru tulisnya M. Provost berhasil menembus blockade pertahanan Belanda dan membawa cengkeh keluar, lalu membudidayakan di Zanzibar. Cengkeh dari Nusantara sebagai komoditas perdagangan meredup untuk jangka waktu panjang.

Tahun 1799, VOC bangkrut. Komoditas cengkeh diambil alih oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Abad 19, Sultan Seyyid Said dari Oman mengagendakan penanaman cengkeh skala masif di Zanzibar dan Pemba. Kawasan ini kemudian menggeser Maluku dan menjadi produsen cengkeh terbesar di dunia selama dekade pertengahan abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20.

Abad 20, terjadi Bom Industri Rokok. Jika sebelumnya cengkeh diincar pasar Eropa sebagai bahan pengawet makanan dan farmasi, penemuan rokok kretek oleh Kudus pada akhir abad ke-19 mengubah peta permintaan secara total

Tahun 1970 – 1980 Permintaan cengkeh lokal melonjak tajam untuk memenuhi industri kretek. Pemerintah Indonesia menggalakkan program perluasan tanaman cengkeh rakyat secara masif di Sulawesi, Jawa, Sumatra, dan Bali.

Bahan bacaan: “Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia” diterbitkan oleh: Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek


Posting Komentar untuk "Cengkeh"