Fasis, Komunis dan Liberal

Yuval Noah Harari penulis buku “21 Pelajaran untuk Abad ke-21” menulis: Manusia berpikir dalam kisah, bukan fakta, angka atau rumus. Semakin sederhana kisahnya, semakin baik. Setiap orang, kelompok orang, dan bangsa yang memiliki dongeng dan mitosnya sindiri-sendiri. Namun selama abad kedua puluh, para elit global di New York, London, Berlin dan Moskow telah merumuskan tiga kisah akbar yang mengklaim mampu menjelaskan seluruh masa lalu dan memperkirakan masa depan seluruh dunia: kisah fasis, kisah komunis, dan kisah liberal.

Fasis yang didirikan oleh Benito Musolini di Milan Italia pada tanggal 23 Maret 1919 gagal total menjawab persoalan manusia. Awalnya fasis berkembang pesat karena membawa misi kemanusiaan. Lambat laun berubah Haluan menjadi nasionalisme radikal. Pemilihan ini bukan tanpa sebab. Perang dunia pertamalah yang menyebabkan fasis memutar ideologi.

​Gerakan fasisme Italia dijiplak oleh Adolf Hitler di Jerman. Fasis dimodifikasi kebijakan menjadi militer yang merebut tanah dengan harapan untuk kelangsungan hidup. Gerakan ini bukanlah tanpa tumbal. Hitler menjadikan ras Arya sebagai “ras unggul” dan menindas kelompok lain. Rasa nasionalisme yang dibangun sangat berlebihan. Ia menggalang persatuan nasional yang ekstrim serta membangun perekonomian yang mandiri agar tidak bergantung pada negara asing, terutama untuk persiapan perang.

Komunisme bukanlah sebuah filsafat murni, meskipun setelah diturunkan ditemukan teori ketergantungan pada ideologi politik, ekonomi, dan sosial yang bertujuan menciptakan masyarakat tanpa kelas, tanpa kepemilikan pribadi atas alat produksi, dan tanpa negara (stateless society).

​Dalam sistem ideal komunisme, seluruh sumber daya dan alat produksi (seperti pabrik, tanah, dan modal) dimiliki secara bersama oleh masyarakat, serta dikelola untuk kepentingan kolektif. ​Karl Marx dan Friedrich Engels, merumuskan landasan teoritis komunisme melalui buku Manifesto Komunis (1848) dan Das Kapital. Mereka menyebutnya sebagai sosialisme ilmiah.

Vladimir Lenin memimpin Revolusi Bolshevik di Rusia pada 1917 dan mendirikan Uni Soviet. Lenin menyesuaikan teori Marx menjadi aksi politik praktis melalui partai kediktatoran proletary. Paham ini dikenal sebagai Marxisme-Leninisme.

​Kemunculan liberalisme berawal dari sebuah pertanyaan siapakah sebenarnya pemegang kedaulatan tertinggi atas kehidupan seorang manusia? Jawaban yang lugas adalah individu itu sendiri. Karena manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial dan bebas. Tuntutannya tiga macam. Kebebasan individu, rasionalitas, dan kesetaraan hukum.

Tampaknya terjadi dualisme antara Marxisme dan Liberalisme. Masing-masing memiliki pijakan yang kuat, sehingga dalam perjalanan waktu, keduanya saling mengkritik. Karl Marx mengkritik adanya Liberalisme.

John Locke membangun pondasi politiknya, sementara Adam Smith merumuskan ekonominya. Locke mengatakan bahwa Pemerintah dibentuk hanya untuk melindungi hak-hak alamiah tersebut. Jika negara melanggar hak warganya atau menjadi tirani, rakyat memiliki hak moral untuk melancarkan revolusi. Sebaliknya Marx berprinsip sebaliknya.

Adam Smith merumuskan bahwa pemerintah tidak perlu terlalu banyak campur tangan mengatur harga atau produksi. Pasar akan mengatur dirinya sendiri melalui hukum penawaran dan permintaan (supply and demand). Sementara Marx mendoktrin bahwa semua usaha perekonomian harus dikuasai negara.

Posting Komentar untuk "Fasis, Komunis dan Liberal"