Warna: Secercah rasa Syukur

Ketika Allah melukiskan warna, yang dimaksud sesungguhnya ilmu pengetahuan, bukan sekedar nama warna. Warna merupakan kesempurnaan yang meliputi ketauhidan, ketakjuban, keindahan, nilai filosofi, dan nilai moralitas. Secara psokilogis, warna memengaruhi terhadap suasana hati (mood), dan pikiran manusia, yang secara tidak langsung dapat membantu proses pemulihan.

Apapun dimensinya, karunia ini harus dinikmati sebagai rasa syukur. Karena berbagai macam warna membuat:

  • Warna sebagai Emosi dan Psikologi: Merah bukan sekadar gelombang cahaya dengan frekuensi tertentu, melainkan luapan gairah, keberanian, atau peringatan. Biru menghadirkan ketenangan samudera sekaligus kedalaman rasa sepi.
  • Warna sebagai Memori dan Waktu: Kuning kecokelatan (sepia) menyimpan kehangatan nostalgia masa lalu. Hijau daun basah membawa ingatan tentang aroma tanah setelah hujan (petrichor) dan harapan baru.
  • Warna sebagai Identitas dan Budaya: Putih tidak hanya berarti kosong, tetapi lambang kesucian atau bahkan duka dalam budaya tertentu. Hitam bukan sekadar kegelapan, melainkan simbol ketegasan, misteri, dan keanggunan yang tak terbatas.
  • Warna sebagai Nilai Spiritual dan Kehambaan. Cahaya yang memantulkan bukan hanya untuk memanjakan mata untuk dinikmati. Warna yang diciptakan Allah siap untuk dikaji dan dibaca hingga akhir zaman.

Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh dokter Tifauzia Tyassuma, yang lebih dikenal sebagai Dokter Tifa, adalah seorang dokter, ahli saraf nutrisi (nutritional neuroscientist), dan aktivis kesehatan yang sering menyuarakan berbagai isu sosial serta kebijakan publik di media, bersama Taufiq Pasiak yang ditulis dalam bukunya “Nutrisi Surgawi” menjelaskan secara detail tentang warna. Semula warna hanya dikenal sebagai warna primer, yaitu merah, kuning dan biru, selain hitam-putih.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa warna telah disebutkan dalam al Qur’an dengan berbagai macam persepektif dan kemanfaatannya.

Warna Kuning tertulis 6 kali, yaitu menjelaskan tentang sapi betina (al Baqarah 2: 69), tumbuh-tumbuhan menjadi kuning (ar Rum 30: 51), tanaman menjadi kering dan menguning (az Zumar 39: 21), tanaman mengering (al Hadid 57: 20), iring-iringan unta kuning (al Mursalat 77: 33), dan cahaya kuning senja (al Insyiqaq 84: 16).

Warna Putih disebutkan 12 kali, terutama yang menggambarkan keadaan pikiran yang mendapatkan kondisi mental pencerahan yang mencerminkan cahaya kesadaran spiritual. Warna putih merupakan warna reflektif, penyerap semua warna yang terlihat.

Sebaliknya, warna hitam sebutkan 7 kali. Menggambarkan keadaan manusia dan lama smesta. Sebagai contohm surat an (Nahl 16: 58), yang berisi wajahnya menjadi hitam suram. (Az Zumar 39: 60) yang menggambarkan Engkau akan melihat orang-orang dusta terhadap Allah, wajahnya menghitam. Namun pada surat al Fathir (35: 27) Allah menciptakan gunung yang berwarna putih, merah dan hitam.

Warna Hijau disebutkan 7 kali yang melukiskan kesegaran dan keteduhan. Ini membuktikan bahwa karunia Allah demikian besar bagi manusia. Surat (Yusuf 12: 43) bercerita tentang tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai gandum yang kering. Termaktub dalam (al Hajj 22: 63), bagaimana Allah menurunkan air hujan dari langit sehingga bumi menjadi hijau. Demikian pula dalam surat (Rahman 55: 76) yang memberikan informasi tentang kedua surga itu kelihatan hijau tua warnanya. (insya Allah bersambung)

Posting Komentar untuk "Warna: Secercah rasa Syukur"