Dalam ilmu Al-Qur'an (Ulumul Qur'an), penafsiran Al-Qur'an dikelompokkan berdasarkan sumber penafsiran (dari mana makna diambil) dan metode penyajian (bagaimana cara menafsirkannya). Ada ulama yang menafsirkan yang bersumber dari al Qur’an itu sendiri, hadits Nabi Muhammad SAW, serta perkataan para sahabat dan tabi’in, namanya Tafsir bil Ma’tsur (Tafsir bir Riwayah).
Ada yang fokus berdasarkan isyarat batin
atau dimensi spiritual (tasawuf) yang ditangkap oleh mufassir setelah melalui
pembersihan jiwa. Tafsir ini hanya dalam kalangan tertentu yang memang telah
mengalami pengalaman keagamaan yang sangat mendalam. Contonynya, Tafsir al
Jilani (Syekh Abdul Qadir al Jilani).
Tafsir yang banyak digunakan saat ini
adalah yang mengandalkan pada ijtihad akal, analisis Bahasa, dan ilmu
pengetahuan dengan tetap terikat pada kaidah ilmu tafsir. Sebagai contoh, Tafsir
al Hijri, Tafsir al Qur’an al Karim, Tafsir al Misbah, Taksir al Kautsar dll.
Dalam ilmu tafsir Al-Qur'an, pendekatan
yang berfokus pada analisis bahasa, keindahan kebahasaan (balaghah),
struktur kata, sintaksis (nahwu), serta morfologi (sharaf)
dikenal dengan metode Tafsir Adabi Lughawi (Tafsir Bahasa dan Sastra).
Mufassirin terpesona pada keindahan bahasanya, ketepatan pemilihan kata
(diksi), hingga rahasia susunan ayat.
Dalam menuliskan tafsirnya, mufassirin
juga terpengaruh pada kebiasaan cara penulisannya termasuk gaya bahasanya.
Gaya Bahasa Penulisan Kolom
Bila membaca gaya Bahasa penulisan
kolom, tampak kalimat yang pendek, lugas, dan tegas. Diksi yang dipakai dipilih
melalui proses yang serius dan akurat. Diksi-diksi yang dipakai itu menyimpan
kekuatan yang mampu menghentakkan imajinasi dan batin pembaca.
Contoh
ayat pertama surat al Ikhlas: قُلْ هُوَ
اللَّهُ أَحَدٌ “Katakan
Dialah Allah, Yang Maha Esa”
Gaya Bahasa Penulisan Reportase
Gaya bahasa penulisan reportase ditandai
dengan menggunakan kalimat yang sederhana, elegan, komunikafif, dan lebih
menekankan pada hal yang bersifat pelaporan dan sering digunakan dalam majalah
atau koran yang menyajikan dari berbagai peristiwa penting. Biasanya. Model
seperti ini memikat emosi pembacadan sekaligus mengajaknya masuk dalam tema
yang ditulis. Contoh
Menyingkap Topeng Agama Pendusta di Kota
Mekah
Mekkah. Di balik megahnya tradisi
keagamaan masyarakat Quraisy di sekitar Ka'bah, sebuah kritik tajam turun
menggoncang kesadaran sosial mereka. Melalui Surah Al-Ma’un ayat 1–3, Al-Qur'an
tidak sedang mengkritik orang yang lupa beribadah ritual, melainkan menuding
sosok yang secara terang-terangan mendustakan agama lewat perilaku sosial
mereka.
الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
• فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ • وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ
الْمِسْكِينِ
"Tahukah kamu orang yang
mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak
menganjurkan memberi makan orang miskin." (QS. Al-Ma'un: 1–3)
Berdasarkan penelusuran riwayat asbabun
nuzul, ayat ini merekam dinamika sosial masyarakat Mekah abad ke-7.
Tokoh-tokoh terpandang seperti Abu Sufyan atau Al-Ash bin Wail
kerap menyembelih unta setiap minggu. Namun, ketika seorang anak yatim datang
meminta bagian kecil dari daging tersebut untuk menyambung hidup, mereka
bukannya memberi, melainkan mengusirnya dengan kasar.
Kata يَدُعُّ (yadu‘‘u)
dalam analisis kebahasaan tidak sekadar berarti "menolak", melainkan
menghardik dengan dorongan fisik yang keras dan penuh kehinaan.
Dalam tinjauan lughawi (sastra
Arab), penggunaan kalimat tanya أَرَأَيْتَ (A-ra'aita) pada awal
surah berfungsi sebagai pemantik perhatian (tasywiq). Al-Qur'an mengajak
pembaca menyaksikan sebuah fenomena paradoksal.
Al-Qur'an tidak mendefinisikan
"pendusta agama" sebagai orang yang menyembah berhala semata,
melainkan: Pengabaian Anak Yatim dan Ketiadaan Kepedulian Sosial.
Gaya Bahasa Penulisan Ilmiah
Gaya bahasa Ilmiah dalam proses komunikasinya
memberikan rasa formal dan kering, yang dapat dipahami oleh komunitas tertentu.
Karya tafsir yang menggunakan gaya bahasa semacam ini kebanyakan muncul kareta
tuntutan ilmiah, menjadikan karya akademik tampil dengan kekhasan tersendiri.
Tafsir Ilmiah tidak memaksakan teori yang masih
hipotesis. Penafsiran ilmiah berfokus pada hukum alam (sunnatullah) yang
sudah teruji atau fakta ilmiah yang kokoh. Teks Arab (Lughawi) dibedah
terlebih dahulu untuk memastikan bahwa makna literal kata tersebut memang
memiliki keselarasan (isyarat ilmiah) dengan fenomena alam yang
dijelaskan. Tujuan utama tafsir ilmi bukan sekadar klaim kecocokan sains,
melainkan mendorong manusia untuk meneliti alam dan meningkatkan keimanan.
Bahan bacaan: “Khazanah Tafsir
Indonesia” oleh Islah Gusmian

Posting Komentar untuk "Model Penafsiran al Qur’an"