Epistemologi Pengetahuan Islam

 

Secara sederhana, Epistemologi Pengetahuan Islam adalah teori atau cara pandang tentang bagaimana manusia memperoleh ilmu, apa sumber-sumber kebenarannya, bagaimana metode mengujinya, dan apa batasannya, yang semuanya dibangun di atas fondasi pandangan hidup (worldview) Islam.

Orang barat memandang bahwa pengetahuan secara umum memisahkan agama dari sains (sekuler) dan hanya bertumpu pada rasio serta fakta empiris. Pengetahuan Islam bersifat integral dan holistik. Ilmu dalam Islam mencakup alam fisik (materi) sekaligus alam metafisik (gaib). Jika epistemologi secara umum menjawab pertanyaan "Bagaimana kita bisa tahu apa yang kita tahu?", maka epistemologi Islam menjawabnya dengan mengintegrasikan agama dan sains, tanpa memisahkan keduanya.

Muhammad Abed al-Jabiri, seorang filsuf Maroko, menganalisa kerangka pengetahuan (epistemologi) Islam melalui Kritik Nalar Arab (Naqd al-'Aql al-'Arabi). Ia menyimpulkan bahwa struktur pengetahuan dan nalar Islam secara historis dibentuk oleh tiga sistem epistemologi yang berbeda.

Bayani (Teks atau Linguistik). Pendekatan ini bersumber pada dari teks (Al-Qur'an dan Hadis), ijma’, dan ijtihat. Al Qur’an dan Hadits menjadi rujukan utama dalam membuat konsep tentang alam semesta yang bertujuan untuk memperkuat agama Islam. Sistem ini merupakan corak nalar yang paling dominan dan menjadi fondasi utama bagi Ilmu fikih, ilmu kalam atau teologi, ilmu nahwu, dan ilmu balagha.

Prinsip-prinsip dasar epistemologi Bayani ada tiga komponen, yaitu

  • Prinsip infishal (keterpisahan). Memandang bahwa alam semesta ini berdiri sendiri, tidak ada hubungannya dengan ciptaan Tuhan. Keterpisahan ini memunculkan ilmu pengetahuan menjadi terkotak-kotak. Ada ilmu agama dan ilmu non agama.
  • Prinsip al tajwiz (keserbolehan). Prinsip ini membuang jauh hukum sebab-akibat. Lazim ataupun tidak lazim, dianggap sama, sehingga tidak ada upaya untuk mencari jawabannya. Inilah yang menyebabkan bayani tidak dapat memproduksi ilmu pengatahuan umum.
  • Prinsip muqarabah (kedekatan). Dalam setiap menetapkan sebuah pengetahuan, kadang digunakan dengan kedekatan. Misalnya dalam ilmu ushul fiqh menggunakan metode qiyas.

Irfani (Spiritual atau Gnosis). Sistem ini bertumpu pada intuisi, pengalaman batin, dan penyingkapan spiritual (kasyf). Irfani tidak mengandalkan analisis rasional atau otoritas teks secara harfiah, melainkan pencerahan langsung dari Tuhan (esoteris). Epistemologi ini menjadi kerangka utama bagi tasawuf, tarekat, dan filsafat iluminasi (isyraqiyyah). Pendekatan berbasis pengalaman batin, kebersihan jiwa (tazkiyatun nafs), dan penyingkapan spiritual (kasyaf).

Konsep dasar dalam epistemology irfani.

  • Zahir dan batin. Batin adalah hakikat, sedangkan Zahir adalah teks yang berupa al Qur’an dan Hadits sebagai petunjuk umat manusia.
  • I’tibar digunakan untuk menghubungkan antara teks yang Zahir dan yang batin.
  • Wilayah dan nubuwah. Kewaliyan merupakan bentuk dari yang batin, sedangkan nubuwah sebagai representasi yang Zahir.

Burhani (Rasio atau Empiris). Burhani merupakan metode pemahaman agama yang bersumber pada rasionalitas, ilmu pengetahuan (sains), empirisme, dan realitas sosiologis-historis (waqi'). Penggunaan metode ini karena untuk merespons persoalan-persoalan modern yang tidak disebutkan secara spesifik dalam teks, atau untuk memahami konteks turunnya suatu dalil. Burhani melibatkan ilmu sosial, kedokteran, astronomi, ekonomi, hingga antropologi agar hukum atau ajaran agama relevan dan dapat menyelesaikan masalah kehidupan nyata secara ilmiah dan logis.

Bahan bacaan “Filsafat dan Filsafat Ilmu” oleh Isfaroh, M.Ag.

Posting Komentar untuk "Epistemologi Pengetahuan Islam"