Uang atau Emas

 

Bila ada orang baik hati akan memberimu uang dan emas dengan nilai yang sama, manakah yang akan engkau pilih. Uang atau emas? Tentu pilihan yang sulit untuk saat yang bersamaan. Karena saat yang bersamaan nilainya sama. Andai barang tersebut akan segera digunakan, tentu pilihan praktisnya adalah uang. Namun kalau barang tersebut akan digunakak untuk esok hari emas adalah pilihan yang tepat. Karena emas memiliki nilai yang konstan. Nilai emas tak akan berkurang meski waktu terus melaju.

Mari kita tinjau Riwayat emas. Setelah Perang Dunia pertama (tahun 1914 - 1918) dan Perang Dunia kedua (tahun 1939 - 1945) dengan kemenangan Amerika, negara-negara lain mengakui kedigdayaan Amerika sebagai negara militer. Pada bulan Juli 1944 dibentuklah sistem Bretton Wood Agrement, yaitu: mencetak dolar AS sebagai uang tunggal (unipolar currency) sebagai alat transaksi yang dijamin dengan nilai emas (gold standard). Sehingga memegang uang dolar AS sama baiknya seperti memegang emas.

Ketangguhan emas bukanlah tanpa rintangan. Emas juga mengalami jatuh bangun. Nilai emas merosot kala perang Vietnam, perang Irak, pengeboman WTC, sehingga cukup mengganggu stabilitas perekonomian AS. Geopolitiknya bergejolak yang mengaku sebagai Polisi Dunia.  Walhasil nilai tukar dolar menemui ketidakpastian. Demikian pula Yen, Poundseterling, Gulden dan lain-lain. Inilah yang menyebabkan orang melirik emas dan logam mulia lainnya.

Emas dan perak telah menjadi logam mulia yang diagungkan oleh banyak orang. Bahkan emas dan perak, juga batu permata, telah digunakan oleh sekelompok orang kaya tak hanya hiasan, yang lebih penting adalah hiasan.

Tuhan menciptakan logam mulia itu bukan sekedar sebagai alat ukur nilai, atau untuk menyimpan kekayaan (investasi), tetapi juga sebagai alat tukar (medium of exchange). Karena tingginya kedudukan emas dan perak inilah maka banyak kalangan menganggap kedua logam mulia tersebut sebagai Heaven's Currency (Mata uang surga).

Uang kertas diterbitkan oleh bank sentral dan jumlahnya terus bertambah (infinitely reproducible). Ketika pasokan uang meningkat tanpa diimbangi pertambahan barang atau jasa, daya beli uang akan tergerus oleh inflasi. Sebaliknya, pasokan emas dan perak terbatas secara fisik karena harus ditambang. Keterbatasan ini membuat logam mulia cenderung mempertahankan daya belinya dalam jangka panjang.

Logam mulia adalah aset riil tanpa counterparty risk (risiko pihak ketiga). Jika terjadi krisis finansial, perang, atau kegagalan sistem perbankan, nilai uang kertas atau tabungan bank bisa menyusut drastis atau dibekukan. Emas dan perak tetap memiliki nilai intrinsik yang diakui secara global di mana saja dan kapan saja.

Ketika pasar modal melandai, emas biasanya mengalami apresiasi nilai, sehingga berfungsi sebagai "asuransi" bagi portofolio investasi.

Anti Rugi dengan berinvestasi Emas. Maya Apriyanti

Posting Komentar untuk "Uang atau Emas"