Tidak Mengapa Lambat, Asal Tidak Berhenti

oleh: Mien R. Uno

Ada satu kutipan Winston Churchill yang saya sukai. "Kita tidak akan pernah tiba di tujuan jika berhenti setiap kali melempar batu kepada anjing yang menggonggong". Terlalu sibuk menanggapi ganguan kecil hanya akan menjauhkan kita dari tujuan.

Saya dikenal sebagai pendidik yang menekankan pentingnya pengembangan diri, semangat kewirausahaan, dan etiket. Namun, semua itu tidak hadir begitu saja. Ia lahir dari perjalanan panjang selama lebih dari empat dekade, perjalanan yang penuh jatuh bangun, terutama secara emosional. Menjalani pendekatan pendidikan yang belum lazim di Indonesia pada masanya bukanlah hal mudah. Stigma, keraguan, dan berbagai tantangan kerap menghadang. Langkah saya pun tidak selalu cepat, apalagi berhenti.

Ada masa ketika saya berjalan pelan, nyaris tertatih. Ada saat saya melangkah lebih ringan dan cepat. Pernah pula langkah saya stabil, tetapi tidak jarang saya berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah. Melainkan untuk menata ulang arah dan menguatkan diri sebelum kembali melangkah. Irama itu terus berubah, sebagaimana perjalanan hidup yang tidak pernah sepenuhnya mulus.

Saya belajar membedakan mana rintangan yang perlu dihadapi dan mana gangguan kecil yang sebaiknya diabaikan. Tidak semua hal layak menyita energi dan emosi. Jika kita terlalu sibuk menanggapi hal-hal sepele, kita akan kelelahan sebelum mencapai tujuan. Karena itu, meskipun langkah saya tidak selalu sama, ada satu prinsip yang saya pegang teguh: saya tidak berhenti.

Bagi saya, menjadi pendidik bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan seumur hidup. Setiap hari adalah proses belajar agar saya tetap rendah hati., berdedikasi, dan bermanfaat. Inilah jalan hidup yang saya pilih dan akan terus saya jalani selama masih diberi kesempatan.

Karena itu, bagi siapapun yang telah memiliki tujuan hidup, teruslah melangkah. Tidak mengapa jika langkah terasa lambat, tidak seirama, atau sesekali goyah. Yang terpenting, jangan berhenti. Jadikan perjalanan ini sebagai ikhtiar dan ibadah. Selama kita terus bergerak, cepat atau lambat, kita akan sampai pada tujuan dengan hati yang lebih matang dan penuh rasa syukur.

Disadur dari buku “Cermin Diri” (Ketika kita masih bisa melihat diri kita pada diri orang lain) Karya Mien Rachman Uno

Posting Komentar untuk "Tidak Mengapa Lambat, Asal Tidak Berhenti"