Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D
Kemunduran organisasi, bahkan
peradaban, sering kali tidak diawali oleh kekalahan besar, melainkan oleh
kegagalan memahami diri sendiri. Ia bukan pertama-tama persoalan sumber daya,
teknologi, atau dana, tetapi persoalan cara berpikir. Banyak organisasi runtuh
bukan karena tidak memiliki kemampuan, melainkan karena tidak lagi mengenali
kemampuan yang dimilikinya. Sardar (2006) menyebut krisis ini sebagai krisis
makna dan krisis imajinasi masa depan, yakni kegagalan membaca realitas
sekaligus membayangkan arah sejarahnya sendiri.
Kemunduran terjadi ketika sebuah
komunitas kehilangan kapasitas untuk membaca masa kini dan merancang masa depan
(Sardar, 2006). Ia tidak mampu memahami konteks zamannya, tetapi juga tidak
memiliki imajinasi kolektif tentang arah yang hendak dituju. Akibatnya
organisasi bergerak dalam mode reaktif. Ia tidak membentuk perubahan, hanya
meresponsnya. Energi habis untuk menjawab krisis jangka pendek, sementara
pertanyaan mendasar, kita ini siapa dan hendak menjadi apa, tidak lagi diajukan.
Kegagalan pertama adalah tidak
mengapresiasi kekuatan sendiri. Organisasi sering mengukur dirinya dengan
standar eksternal dan mengejar legitimasi luar, sambil melupakan kompetensi
internal. Identitas menjadi kabur karena ditentukan oleh perbandingan. Dalam
jangka panjang hal ini menciptakan ketergantungan intelektual. Organisasi
berhenti menjadi produsen gagasan dan berubah menjadi konsumen gagasan.
Kegagalan kedua adalah tidak
memahami realitas kontemporer. Struktur tetap, prosedur tetap, dan cara berpikir
tetap, sementara lingkungan berubah cepat. Respons yang muncul selalu
terlambat. Organisasi akhirnya terjebak dalam pola pemadaman kebakaran, yaitu
menyelesaikan gejala dan bukan akar masalah. Mereka bergerak dari satu jalan
buntu ke jalan buntu lain, tanpa pernah benar-benar merancang masa depan.
Di titik inilah pemikiran
Collins dan Porras (1994) dalam buku Built to Last menjadi relevan. Mereka
menunjukkan bahwa organisasi yang bertahan lama bukanlah yang paling sering
mengubah strategi, melainkan yang paling kokoh identitas dasarnya (Collins
& Porras, 1994). Mereka menyebutnya sebagai core identity, yaitu tujuan
yang menginspirasi, nilai yang dihidupi, keyakinan yang jelas, dan etos yang
konsisten. Organisasi visioner memiliki envisioned future, yaitu visi yang
jelas dan menggugah serta kemampuan mengeksekusinya secara konsisten (Collins
& Porras, 1994).
Collins dan Porras menegaskan
bahwa organisasi visioner mampu mempertahankan nilai inti sekaligus mendorong
kemajuan. Nilai tidak berubah, tetapi strategi dapat berkembang. Justru karena
fondasinya kokoh, organisasi mampu beradaptasi tanpa kehilangan arah.
Sebaliknya organisasi yang tidak memiliki identitas kuat akan mudah panik
setiap kali lingkungan berubah.
Ketika visi menjadi slogan
administratif dan rencana strategis sekadar dokumen formal, organisasi perlahan
kehilangan masa depan dalam imajinasinya. Ia hidup dari rutinitas dan bukan
dari tujuan. Dalam bahasa Sardar (2006), organisasi semacam ini kehilangan
kesadaran masa depan, futures consciousness, yaitu kemampuan melihat masa depan
sebagai ruang yang harus dirancang dan bukan sekadar ditunggu.
Organisasi tanpa masa depan
bukanlah organisasi tanpa sumber daya, tetapi organisasi tanpa visi yang hidup
dan identitas yang jelas. Tanpa itu ia hanya bertahan sesaat, bergerak reaktif,
dan selalu terlambat. Sebaliknya organisasi yang memahami jati dirinya mampu
membaca zaman sekaligus membentuknya. Ia tidak sekadar ada, tetapi dibangun
untuk bertahan, built to last (Collins & Porras, 1994).
Referensi
Collins, J. C., & Porras, J.
I. (1994). Built to last: Successful habits of visionary companies.
HarperBusiness.
Sardar, Z. (2006). What do we
mean by Islamic futures? Dalam M. A. Abu-Rabi’ (Ed.), The Blackwell companion
to contemporary Islamic thought (hal. 562–586). Blackwell Publishing.

Posting Komentar untuk "Krisis Makna dalam Organisasi"