Data itu Bicara

Ada sebuah buku yang cukup laris, yaitu “Bicara itu Ada Seninya” karya Oh Su Hyang yang telah beberapa kali naik cetak. Buku itu berisi tentang pengalaman bagaimana seseorang mengembangkan dirinya, teknik berkomunikasi, dan ketrampilan bernegoisasi. Ada pula tips bagaimana sebaiknya kalau berbicara di depan umum. Tulisannya dikemas dengan bahasa sederhana.

Selaras dengan buku itu, selain memiliki seni dalam berbicara, sebaiknya ditopang dengan data. Tanpa data, meskipun bicara sampai berbusa-busa, kita hanya akan dinilai sebagai omdo (omong doang). Membual, berjanji tanpa tindakan nyata.

Agar tidak diberi julukan hanya omong kosong, sebaiknya dalam berbicara sertakan dengan data. Di bangku sekolah, kita telah belajar matematika dan bahasa. Kita juga belajar bagaimana menggabungkan dua pelajaran itu untuk disatukan menjadi sebuah informasi dan juga cerita. Sehingga informasinya dapat dipertanggung jawabkan.  

Melalui matematika kita dapat bernalar. Melalui bahasa kita dapat berkisah dan mengarang. Namun tampaknya kedua mata pelajaran itu jarang atau sukar untuk disatukan. Masing-masing tegar dengan egonya. Sehingga muncul pemeo, bila seseorang menguasai matematika dapat dipastikan nilai bahasanya jebok, atau sebaliknya.

Padahal matematika dan bahasa sebagai bahan baku untuk memberi informasi kepada orang lain. Di banyak perusahaan, instansi atau lembaga sangat membutuhkan keduanya. Apabila keduanya dapat kawin, maka betapa dahsyatnya sebuah informasi.

Saat ini sudah banyak yang memanfaatkan matematika (yang penuh simbol) dan bahasa (yang penuh sastra) bersanding dalam bentuk infografis. Lewat infografis, informasi mudah dipahami, karena memuat gambar, teks, ikon dan grafik. Menarik perhatian karena terstruktur dan perpaduan warna. Efisien dan ringkas.

Infografis muncul sebagai respons terhadap kebutuhan manusia untuk menyampaikan berita secara cepat, jelas, dan mudah dipahami. Seiring perkembangan zaman, jumlah kabar yang harus diterima manusia semakin banyak dan kompleks, sementara waktu dan perhatian pembaca semakin terbatas.

Pada awalnya, informasi banyak disampaikan dalam bentuk teks panjang dengan Bahasa yang kadang sulit dipahami. Namun, tidak semua orang mudah memahami teks yang rumit, terutama jika berisi data statistik, proses, atau perbandingan. Kondisi ini mendorong perlunya cara penyajian informasi yang lebih ringkas dan visual.

Otak manusia untuk memproses data visual jauh lebih cepat dibandingkan teks. Orang cenderung mengingat 80% dari apa yang mereka lihat, dibandingkan hanya 20% dari apa yang mereka baca. Karena dengan melihat berarti menyederhanakan informasi yang rumit.


Posting Komentar untuk "Data itu Bicara"