Humanis ala Jean Paul Sartre

Jean Paul Sartre (1905 – 1980) seorang filosof dari Perancis, pernah berdebat tentang prinsip filsafat humanisme dengan kakeknya Charles Schweitzer. Kakeknya adalah seorang guru dan tokoh intelektual. Sartre diasuh oleh kakeknya, karena semenjak bayi ayahnya meninggal. 

Sang kakek memiliki perpustakaan luas. Sartre kecil banyak membaca karya sastra dan filsafat. Ia berkenalan dengan sejumlah pemikir besar mulai dari filosof Yunani. Ia terpesona dengan Fransesco Petrarca yang dijuluki sebagai “Bapak Humanisme” demikian juga dengan Desiderius Erasmus yang diberi predikat “Pangeran Para Humanis”. Dari sanalah Sartre mengembangkan ilmunya yang hingga kini lebih dikenal dengan teori humanisme ala Sartre.

Pengembangan fisafat humanisme bukan hanya Sartre seorang. Ada filosof lain yang memperluas. Antara lain, Immanuel Kant, dan Albert Camus. Mereka berekspansi ilmu filsafat humanis, meski coraknya berbeda. Humanisme menurut Kant, manusia punya martabat tertinggi karena budi dan bebas. Karena itu, kita wajib saling menghormati sebagai "sesama pembuat hukum moral", bukan saling memperalat. Ukuran kemanusiaan bukan agama, suku atau status, tetapi kapasitasnya untuk berfikir dan bertindak. 

Camus membentangkan humanis yang memberontak dari ketidak adilan, penindasan, atau penderitaan. Tak heran bila camus mengatakan, karena Tuhan diam dan semesta kosong, satu-satunya yang suci dan tersisa adalah manusia. Maka kita jaga, kita tolong, kita cintai. Bukan karena ada pahala, tapi karena itu yang kita punya. 

Sedangkan Sartre berpendapat, kamu itu bebas total. kamu sendiri yang menciptakan nilai.

Munculnya Humanisme memang tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah sebuah ledakan yang lahir dari kejenuhan terhadap dominasi dogmatis. Para peletak dasar humanisme berani berbeda pendapat dengan pendahulunya. Mereka memberontak karena jenuh dengan metode yang kaku dan berpusat pada teologi (Segala sesuatu diukur berdasarkan ketuhanan. kehidupan di dunia dianggap hanya "persinggahan" yang penuh doa akhirat).

Namun secara umum humanisme berpandangan:

Pertama, fokus pada manusia. Tokoh humanis sangat tertarik pada potensi dan kemampuan manusia. Mereka percaya bahwa manusia adalah pusat alam semesta dan memiliki kemampuan untuk mencapai kesempurnaan.

Kedua, penekanan pada pendidikan: Pendidikan dianggap sangat penting untuk mengembangkan potensi manusia. Mereka mendorong pembelajaran klasik, seperti Bahasa, ilmu pengetahuan dan seni.

Ketiga, menolak dogmatisme. Mereka mempertanyakan otoritas gereja dan tradisi yang sudah mapan. Tokoh humanis mendorong orang untuk berpikir kritis dan mencari kebenaran sendiri.

Keempat, mengandalkan literasi, terutama sastra dan seni. Seni dan sastra dianggap sebagai sarana penting untuk mengungkapkan keindahan dan ekspresi diri. Tokoh humanis menciptakan karya-karya yang indah dan bermakna.

Kelima, menekankan pada aspek kemanusiaan. Agar kehidupan manusia langgeng dan mampu bertahan hidup, karena ada nilai: kasih sayang, keadilan, toleransi dan kebebasan

Bahan bacaan:

1.     “101 Philosophy” karya Paul Kleiman

2.     “Dunia Sophie” karya Jostein Gaarder

Posting Komentar untuk "Humanis ala Jean Paul Sartre"