Quarter life crisis (QLC) adalah kondisi kebingungan, kecemasan, dan tekanan emosional yang biasanya dialami seseorang pada usia sekitar 18–30 tahun, ketika sedang berada pada fase transisi menuju kedewasaan.
Quarter life crisis (QLC) muncul saat seseorang mulai mempertanyakan
arah hidupnya, seperti, “Aku mau jadi apa?”, “Apakah pilihan hidupku sudah
benar?”, “Kenapa aku tertinggal dibanding orang lain?” Itulah keadaan yang
sering menghantuinya. Ia sering cemas dan mudah terserang kelelahan mental.
Istilah QLC, pertama kali yang
mempopulerkan adalah Alexandra Robbins dan Abby Wilner dalam buku
mereka yang berjudul "Quarterlife Crisis: The Unique Challenges of Life
in Your Twenties" (2001). Menurut Robbins, fenomena ini bukanlah
sekadar "pencarian jati diri" biasa, melainkan sebuah periode
kepanikan dan ketidakpastian yang dialami orang-orang yang beralih dari “dunia
akademik” ke "dunia nyata."
Ciri umum yang didokumentasi antara lain
Merasa terkunci dan terjebak dalam
pekerjaan, hubungan dengan orang lain, atau pilihan hidup yang sebenarnya tidak
diinginkan. Antara cita-cita dengan realita tidak seimbang.
- Merasa tidak mampu menata situasi, tersesat dalam arus kehidupan orang lain, yang pada akhirnya merasa tidak bahagia.
- Selalu membandingkan pencapaian diri dengan teman sebaya. Ia melihat rekannya lebih sukses, lebih dapat menikmati hidup.
- Merasa takut gagal. Takut gagal (atychiphobia) umumnya berakar dari perfeksionis, trauma masa lalu, rendah diri, serta tuntutan sosial yang tinggi.
- Hidup dalam suasana banjir informasi seperti sekarang ini harus tegar dalam memegang prinsip. Kemewahan informasi yang ditawarkan media sosial, sesungguhnya hanya ilusi. Usia sekian harus lulus kuliah, umur sekian harus memiliki pasangan hidup, di periode berikutnya harus sukses. Hidup seperti time line.
Inilah yang membuat banyak orang merasa
terlambat, tidak normal, gagal (padahal semua usaha melalui proses). Ia merasa
ada orang yang akan menilai validasi. Tersandra dengan komentar,
terobsesi dengan like, dan memburu followers.
Cara aman untuk mengatasinya, menerima
ketidak pastian. Tidak ada yang
tahu pasti apa yang akan terjadi di masa depan, dan itu adalah hal yang wajar. Terjun
langsung dan bersosialisasi aktif dengan komunitas. Mengelilingi diri dengan
teman dan keluarga yang mendukung bisa membantu kita merasa lebih aman dan
tidak sendirian.

Posting Komentar untuk "Quarter Life Crisis"