Kebiasaan yang buruk sebenarnya adalah perilaku repetitif (sifat yang diulang-ulang dan selalu sama) yang memberikan dampak negatif pada kesehatan fisik, mental, produktivitas, hingga hubungan sosial. Seringkali kita melakukannya secara spontan sebagai kebiasaan yang tidak disadari terhadap stress atau rasa bosan.
Prof.
Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum dalam bukunya “Falsafah
Hidup Jawa”, mengulas tiga kebiasaan tidak baik, yang ditinjau dari falsafah
orang Jawa.
Pertama,
kebiasaan ingin menang sendiri. Kebiasaan ini kalau dibiarkan akan merugikan
kepada diri sendiri maupun orang lain. Contohnya Drengki-Srei, jail
methakil. Ini adalah watak yang tidak senang terhadap kenikmatan orang
lain. Sebaliknya ia merasa bahagia, bila orang lain celaka. Orang seperti itu,
ingin membinasakan orang lain dengan berbagai cara, dan menghalalkan segala
cara.
Apabila
perbuatan tersebut telah tercapai, maka tingkatan berikutnya adalah jail (gemar
berbuat tidak baik kepada orang lain) dan methakil (niat untuk
menjerumuskan orang lain). Niatnya adalah rasa pengakuan dari, bahwa dirinya
hebat. Kehebatan ini agar orang lain memandang bahwa kita lebih berwibawa, lebih
berkuasa, lebih kaya, dan ingin selalu menang dalam segala hal.
Contoh
lain merkengkong yaitu kebiasaan yang lebih menyakitkan dari sikap ngeyel,
rai gedhek. Sudah tahu bahwa dirinya itu salah. Bahkan sudah diputuskan di
pengadilan bahwa dirinya salah. Namun ia menganggap bahwa dirinya benar.
Menuduh pengadilan tidak fair. Masih banyak istilah-istilah lain yang intinya
mau menang sendiri.
Kedua,
kebiasaan yang menjatuhkan harga diri. Contoh, lemer, geleman, dhemenan.
Lemer adalah kebiasaan seorang wanita yang gemar berganti-ganti pasangan
pria. Orang seperti ini mendapat julukan di masyarakat orang gampangan (mudah
dipuji, mudah dirayu, dengan lelaki siapapun nempel). Orang dahulu mengatakan kendho
tapihe. Wanita tersebut tergolong hina. Harga dirinya turun drastic, dan
selalu menjadi buah bibir bagi komunitasnya.
Trocoh
adalah istilah yang ada hubungannya dengan perkataan. Mereka yang ringan
mengucapkan kata yang tidak sedap didengarkan. Kata-kata yang trocoh sangat
berkaitan dengan etika seseorang. Hal ini berkaitan erat dengan ungkapan ajining
diri ana kedaling lathi, yang memiliki makna harga diri seseorang akan
jatuh apabila mengucapkan kata yang kotor.
Ketiga,
tradisi lembu peteng. Secara
harfiah, Lembu berarti "sapi" atau "banteng" (simbol
kekuatan/kekuasaan), dan Peteng berarti "gelap". Namun, makna secara
filosofis adalah sebutan bagi anak-anak bangsawan atau raja yang lahir dari
hubungan tidak resmi (bukan dari permaisuri), atau anak yang status nasabnya
sengaja disembunyikan karena alasan politis dan keamanan.
Raja berkuasa mutlak terhadap negara dan
seisinya. Tak mengherankan bila banyak wong cilik (rakyat) yang menjadi lembu
peteng bagi wong gedhe (penguasa). Posisi wong cilik selalu kalah
dan harus menuruti kehendak wong gede, termasuk dalam hal pelampiasan nafsu
seks.

Posting Komentar untuk "Tiga Kebiasaan Tidak Baik"