Kata
akal berasal dari Bahasa Arab akala, ya’qilu, a’lan. Ahli Bahasa berpendapat
bahwa rangkaian ketiga kata tersebut bermakna “menghalangi”, dan lahirlah kata ‘iqal
yang berarti tali. Dalam tradisi Arab, ‘iqal adalah tali yang melilit di
kepala pria untuk menghindari tutup kepala tidak kabur bila diterpa angin yang
kencang.
Makna
lain kata ‘iqal antara lain:
Paham/Ilmu
karena dengan pemahaman dan ilmu, seseorang bagaikan memiliki tali agar
terikat.
Menghafal
ditafsirkan
mengikat pengetahuannya sehingga tidak tercecer
Tempat
berlindung yang artinya menghalangi seseorang dari
bahaya atau melindungi seseorang tidak keluar dari penjara agar tidak
mengulangi kejahatannya.
Istri,
karena istri telah terikat dengan perkawinan dengan seorang suami sehingga
terhalangi dengan pria lain.
Dalam
al-qur’an dan hadits, akal memiliki kedudukan yang tinggi, tetapi juga ada
batas-batas tertentu. Akal bukan saja sebagai alat berpikir, melainkan anugerah
agung yang menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Meskipun
akal kedudukan yang tinggi, tetapi harus tunduk pada hati. Akal dituntun oleh
hati. Akal yang sehat adalah akal yang terhubung dengan kesucian hati. Bila
hati kotor, maka akal akan tumpul dalam melihat kebenaran.
Akal
ibarat mata. Betapapun hebatnya mata, untuk dapat melihat, mata membutuhkan
cahaya.
Tidak
sedikit akal disebutkan dalam al Qur’an. Kata kerja dalam bentuk ya’qilum disebut
sebanyak 22 kali, sedangka ta’qilun disebutkan 23 kali. Ada pula na’qilu,
na’qiluha dan aqaluhu yang disebutkan sekali. Ini mengisyaratkan
betapa pentingnya akal.
Akal
adalah pelayan yang hebat namun tuan yang buruk. Bila kita mendewakan akal
secara mutlak, kita akan terjebak dalam rasionalisme dingin yang meniadakan
keajaiban, cinta, dan misteri yang tak terjelaskan. Oleh karenanya, tugas wahyu
membimbing akal dengan cara:
Tadabur:
merenung, memikirkan, dan memperhatikan secara mendalam dan berulang-ulang
hingga keujung akhir perkara.
Tafakkur,
artinya mirip seperti tadabur, tetapi lebih diarahkan pada merenungkan
tanda-tanda atau bukti-bukti atas kekuasaan Allah.
I’tibar:
mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu agar tidak mengulangi kesalahan
yang sama
Bahan
bacaan: “Logika Agama” karya Prof. DR. M. Quraish Shihab

Posting Komentar untuk "Akal"