Sebagai
atasan atau manajer, tentunya telah paham bila ada pekerja yang sedang
mengalami quiet quitting. Orang yang bekerja sesuai dengan porsinya atau
bekerja seperlunya saja sering disebut quiet qutting. Kerja tidak perlu berlebihan,
sewajarnya saja. Secara kompetensi, pekerja tidak ada masalah dengan
kinerjanya. Menjadi masalah andai tidak melaksanakan sesuai dengan tugas yang
diemban.
Orang
yang melakukan quiet quitting biasanya menolak pekerjaan di luar kompetensinya.
Atau diluar jam kerjanya, meskipun pekerjaan itu ringan, misalnya menerima
telepon, atau sekedar menuliskan konsep yang telah dibuat. Orang seperti ini
enggan untuk mengejar karier. Tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu yang
melebihi porsinya.
Orang
yang enggan untuk mengejar target sering disebut dengan demotivasi, kebalikan
dari motivasi. Merasa kehilangan semangat untuk melakukan tugas atau meraih
tujuan yang telah ditetapkan. Bukan karena sakit secara fisik, namun enggan
untuk bekerja. Penyakit seperti ini banyak dihinggapi oleh kelompok umur
produktif.
Ada
beberapa faktor yang menyebabkan orang dihinggapi quiet quitting, seperti
kecewa di tempat kerja. Sebelum melamar, mungkin orang tersebut memiliki tujuan
tertentu, dan akan memperoleh finansial tertentu. Sehingga ia merasa
termotivasi. Namun, setelah benar-benar masuk dalam lingkungan kerja, ia terlihat
kecewa. Tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Kedua,
Teman kerja yang toxic. Secara sederhana toxic adalah racun.
Teman yang toxic, artinya rekan yang menyusahkan dalam bekerja, sehingga
merugikan orang lain. Seseorang dapat dianggap racun mana kala ia menebarkan
sesuatu yang negatif ke lingkungan sekitarnya. Bukan hanya rekan sekantor,
namun dapat pula menyebar ke media sosial.
Ketiga,
rutinitas. Melakukan pekerjaan yang monoton, bukan hanya membosankan, tapi
dapat menurunkan kinerja. Biasanya menyerang orang yang telah nyaman. Mereka
enggan untuk melakukan rotasi pekerjaan, tidak ingin meningkatkan prestasi
diri, tertutup dengan dunia luar, itulah faktor-faktor yang menyebabkan orang
terkena quiet quitting.
Tidak
semua yang terkena quiet quitting akan menimbulkan keburukan. Mereka menganggap
bahwa beban di luar kemampuannya akan menimbulkan stress. Sikap seperti ini
akhirnya memang membuat mereka terhindar dari kecemasan atau depresi. Selain
itu, mereka juga beranggapan bahwa bekerja yang melebihi kapasitasnya memiliki
resiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan.
Pada
akhirnya memang berpulang pada komunitasnya. Kalau bekerja dalam takaran yang
biasa saja, pimpinan enggan untuk menaikkan gaji, memberi kesempatan untuk
promosi. Disisi lain, orang yang tidak suka tantangan, berarti tidak mampu
menghargai diri sendiri dan orang lain. Lewat prestasi kerja, seseorang
sebenarnya telah memberi warna dan memiliki kontribusi dalam lingkungannya.

Posting Komentar untuk "Quiet Quitting"