Herbert Feith

Penyuka ilmu-ilmu politik, kebudayaan, sejarah dan sosial ekonomi, dipastikan tidak asing dengan nama-nama: Benedict Anderson, M.C. Ricklefs, Clifford Geertz, R. William Liddle dan lain-lain. Mereka masuk dalam katagori Indonesianis.

Dalam dunia akademis Barat, ada tradisi menamai pakar berdasarkan wilayah geografis spesifik yang mereka pelajari secara mendalam. Pola penamaannya menggunakan akhiran "-ist" (Inggris) atau "-is" (Indonesia) yang berarti "ahli" atau "spesialis". Nama ini sekaligus sebagai pembeda antara “orang luar” dan “orang dalam. Istilah ini memang eksklusif, yang digunakan untuk orang asing.

Bila orang Indonesia meneliti sejarah Indonesia, kita menyebutnya sejarawan, berkutat dengan budaya disebut budayawan, atau pengamat politik. Sedangkan orang asing yang menghabiskan hidupnya meneliti Indonesia, itu dianggap sesuatu yang "unik" dan butuh kategori khusus. Mereka adalah orang luar yang berusaha memahami jeroan Indonesia dari sudut pandang ilmiah.

Bukan hanya sekedar tahu secara ilmiah, karena seorang Indonesianis harus total, bukan sekedar tahu. Prinsip totalitas meliputi penguasaan Bahasa Indonesia secara fasih. Bahkan beberapa Indonesianis lancar berbahasa daerah. Mereka melakukan riset bukan hanya seharian atau mingguan, tetapi dapat berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Indonesianis berdedikasi seumur hidup. Mulai dari berkarier sejak muda sampai pensiun.

Salah satu dari mereka adalah Herbert Feith. Beliau bukan hanya akademisi. Ia adalah “jembatan emas” yang menghubungkan Australia dan Indonesia. Dimata koleganya, ia adalah pribadi yang egaliter dan terbuka, berdedikasi tinggi terhadap hak asasi manusia, hidup sederhana, aktivis perdamaian dan kemanusiaan.

Bila Anda pernah berjumpa dengannya semasa hidupnya, Anda akan menemukannya sebagai pria tua yang sangat, sederhana, dan gemar bersepeda kemana-mana (bahkan saat menjadi dosen tamu di UGM Yogyakarta).

Lahir di Vienna, Austria pada tahun 1930, Herb datang ke Australia sebagai pengungsi di tahun 1939 bersama dengan orang tuanya yang merupakan keturunan Yahudi untuk menghindar dari meluasnya paham Nazi. Tergolong anak cerdas, ia pun menyelesaikan pendidikan dengan sangat lancar. Melanjutkan studinya ke Universitas Melbourne menekuni ilmu politik di bawah asuhan Profesor W. Macmahon Ball yang membuatnya tertarik pada Asia Timur dan Tenggara, dan khususnya kajian Indonesia.

Tidak seperti Indonesianis lainnya yang tertarik pada sosial budaya, sejarah, ataupun agama, Herb lebih senang mendalami politik, dengan alasan:

Pengalaman waktu kacil, saat diburu oleh tentara Nazi, sehingga harus melarikan diri dan menetap di Autralia. Menjadi korban diskriminasi dan fasisme inilah yang menanamkan rasa kemanusiaan yang mendalam dan keinginan kuat untuk memperjuangkan hak asasi manusia serta melawan penindasan politik.

Cintanya pada politik Indonesia tumbuh karena interaksi langsung. Tahun 1950-an, ia menjadi pelopor program sukarelawan (yang kemudian menjadi Australian Volunteers International). Ia juga tercatat sebagai pegawai negeri di Kementerian Penerangan RI. Menyaksikan langsung euforia kemerdekaan, Pemilu 1955, hingga jatuhnya demokrasi parlementer, yang kemudian menjadi bahan utama karya akademisnya.

Ia percaya bahwa ilmuwan politik memiliki tanggung jawab moral. Sepanjang hidupnya, ia aktif dalam gerakan perdamaian dan hak asasi manusia.

Ia sangat kritis terhadap rezim Orde Baru Soeharto, terutama terkait masalah tahanan politik dan invasi Timor Timur, meskipun ia tetap menjaga hubungan baik dengan banyak orang Indonesia.

Sebagai orang yang berkomitmen terhadap keseteraan kelangsungan hidup manusia. Karya yang diwarisi antara lain:

1.     Buku "The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia" (1962) yang telah diterjemahkan menjadi "Runtuhnya Demokrasi Terpimpin"

2.     "Administrator vs Solidarity Maker". Ia membagi pemimpin Indonesia menjadi dua tipe: Pemimpin teknis yang rasional dan fokus pada ekonomi (contoh: Moh. Hatta), dan “Solidarity Maker”: Pemimpin yang pandai membakar semangat massa dan fokus pada simbol persatuan (contoh: Soekarno).

3.     "Indonesian Political Thinking 1945–1965" (1970) – diedit bersama Lance Castles

4.     "The Last Days of President Suharto" (1999) – diedit bersama Edward Aspinall dan Gerry van Klinken

Tulisan-tulisan lain yang tersebar dalam bentuk makalah, tulisan lepas di media masa.

Posting Komentar untuk "Herbert Feith"