Penyakit Lisan

 

Pesan Rasulullah SAW

“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam”.

Pesan Rasul ini menekankan akan pentingnya menjaga tutur kata. Menjaga lisan berarti berbicara dengan bijak dan menghindari menyakiti orang lain, atau menimbulkan kebencian. Menjaga lisan juga berarti mampu mendengarkan orang lain dengan baik.

Sekarang ini mungkin kita masuk dalam suasana sedikit berbicara, namun itu bukan berarti budaya lisan menghilang, melainkan telah beralih ke aktivitas penggunaan gadget. Bahkan bisa jadi lebih berbahaya. Tak sedikit tulisan dalam media sosial menyebabkan kekacauan.

Ada ungkapan Lidah tak bertulang. Lidah, bentuknya lunak. Dapat dilipat sesuka hati. Ini menunjukkan bahwa lisan yang digetarkan oleh lidah juga bersifat lentur. Sangat mudah untuk mengucapkan apa saja. Bila mendengarkan sangat menyejukkan, tapi juga dapat mengobarkan hati.

Jangan sampai ucapan justru mencelakakan kita. Hindari berbicara:

Yang Tidak ada Gunanya

Biasanya ujaran semacam ini diucapkan asal bunyi atau sekedar pemanis dengan maksud hanya untuk meramaikan suasana. Acap kali kita menjumpai seseorang dalam berbicara tanpa pertimbangan, sehingga menimbulkan penyesalan.

Berbicara yang Berlebihan

Ada ungkapan “tong kosong nyaring bunyinya”, yaitu orang yang berbicara tanpa dasar, tanpa data. Mereka ini orang yang minim ilmu atau tidak tahu apa-apa tapi banyak bicara, sok tahu, atau gemar membual. Ada juga yang mengungkapkan banyak bicara banyak bohongnya.

Berbantah-bantahan

Apapun alasannya, bertengkar merupakan perbuatan yang tidak dibenarkan dan tercela. Bertengkar tidak pernah akan menyelesaikan masalah. Bertengkar hanya akan menimbulkan pikiran menjadi beku. Orang yang suka bertengkar sulit berlaku adil, karena kata-kata yang keluar dari mulut adalah kata yang penuh amarah dan sering melampaui batas kebenaran.

Banyak Bercanda dan Senda Gurau

Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diingankan dalam berkomunikasi, maka bercanda hanya sekedarnya saja untuk merefresh pikiran. Rasulullah sendiri terkadang juga bercanda hanya untuk menyenangkan lawan bicara.

Ketika Rasulullah mendapat pertanyaan dari seorang nenek “Apakah di Surga ada orang tua, ya Rasulullah?” Dijawab Rasulullah “Di Surga tidak orang tua. Semua penghuninya orang muda”. Si nenek pun seketika terkejut dan raut mukanya penuh penyesalan. Segera Rasulullah meneruskan firman Allah “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari secara langsung”. Nenekpun merasa lega

Sumber bacaan: “Retorika Haraki, Seni berbicara Aktivis Dakwah” karya Amirudin Rahim

Posting Komentar untuk "Penyakit Lisan"