"Man la ya'rifu al-mantiq, la yutsaqu bi
'ilmihi" (Siapa yang tidak mengetahui Mantiq, maka ilmunya tidak dapat
dipercaya). Imam Al Ghazali
Mantiq adalah ilmu yang mempelajari aturan atau kaidah berfikir yang bila dipatuhi akan menjaga akal dari kesalahan dalam menarik kesimpulan. Boleh dikatakan bahwa Mantiq dan Logika adalah pohon yang sama, tetapi tumbuh dari tanah yang berbeda. Logika berasal dari Yunani, sementara Mantiq dari Arab.
Memelajari mantiq sangat bermanfaat untuk
menjaga intelektualitas dari kesalahan, menjamkan analisa dan definisi, sebagai
dasar memelajari ushul fikih, dan membangun argumen yang tak terbantahkan.
Al Kindi,
al Farabi, Ibnu Thufail, adalah beberapa contoh cendekiawan Muslim yang
belajar filsafat Yunani. Mereka mampu mengembangkan pengetahuan yang
disesuaikan dengan risalah yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW. Nilai filsafat
yang masuk ke dunia Arab, tidak serta merta menjadi bagian bagunan ilmu yang
disusun oleh cendekiawan Muslim.
Memang
benar bahwa filsafat Islam terpengaruh oleh filsafat Yunani, namun tidak
berarti mengekor. Pengaruh filsafat Yunani pada filsafat Islam dilakukan
dengan cara amati, tiru, dan modifikasi. Selain itu, filsafat Islam juga
harus sesuai dengan prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam. Termasuk
ilmu logika.
Logika memelajari
dibolehkan manusia berpikir secara sejajar, teratur dan tepat. Logika, dapat
dikatakan sebagai jalan pikiran manusia yang masuk akal. Karena pikiran manusia
didasari atas fakta-fakta, maka cendekiawan Muslim mengembangkan menjadi Ilmu
Mantik.
Dalam ilmu
Mantik ada dua istilah yang mirip, tapi sesungguhnya beda, tashawwur dan
tashdiq.
Thasawwur terbentuk
dari kata masdar thasawwara-yatashawwaru yang artinya membayangkan atau
menggambarkan. Dengan demikian thasawwur adalah pengetahuan atau
gambaran kita terhadap sesuatu yang tidak disertai dengan penghukuman apapun
terhadap sesuatu itu.
Secara
filosofi, ketika kita membayangkan sebuah gunung. Kata "Gunung", yang
terlintas adalah tanang yang tinggi menjulang, besar, dari kejauhan warna biru,
berlapiskan hutan. Pada titik ini, kita sedang melakukan Tasawwur. Kita
belum memerinci secara spesifik yang meliputi ketinggian, keindahan, lebat
pepohonan pepohonan dan lain-lain.
Tashdiq berasal
dari kata shaddaqa-yushaddiqu, yang artinya membenarkan. Dalam arti yang
luas pembenaran atau persetujuan. Bila thasawwur masih global dan belum
memiliki makna, maka kalau tashdiq adalah sesuatu yang jelas. Orang lain
akan memahami.
"Tasdiq adalah aktivitas akal yang
menetapkan hubungan antara dua konsep (subjek dan predikat) dengan penilaian
bahwa hubungan tersebut sesuai dengan kenyataan atau tidak."
Bila kita melihat
langit dan berkata dalam hati, "Langit itu cerah," akal kita sedang
melakukan Tasdiq. Kita tidak dapat membayangkan "langit" dan
"cerah" secara terpisah, tetapi Anda menghubungkan keduanya dan meyakini
kebenaran hubungan tersebut.
Untuk mencapai sebuah Tasdiq, akal
memerlukan tiga elemen (yang semuanya merupakan Tasawwur) terlebih dahulu:
1. Maudhu'
(Subjek): Contohnya "Api".
2. Mahmul
(Predikat): Contohnya "Panas".
3. Nisbah
(Hubungan): Kaitan antara Api dan Panas.

Posting Komentar untuk "Tashawwur dan Tashdiq"