Kan mengkana tanpa pamatawis
Uwusira nora winaranan
Kasusu sukaning tyase
Katona Wanteripun
Tan kuwana nayuting kapti
Anguja nepsu hawa
Nora awas emut
Labete tanpa warana
Mung kumudu mintonken yensarwa wani
Iku nora prayoga
(serat
Nitisruti, Dhandanggula bait ke-20)
Hal
yang demikian tanpa pertimbangan,
Tutur
katanya tidak dibatasi,
Terburu-buru
menurut gejolak hati,
Agar
terlihat keberaniannya,
Tak
kuasa mengekang keinginan,
Memuaskan
hawa nafsu,
Tidak
awas dan sadar,
Tindakannya
tanpa perhitungan,
Hanya
terdorong mempertunjukkan kebenarnian,
Itu
tidak baik.
Pahami
masalah agar dapat menemukan jalan yang terbaik, itulah sebabnya aja
grusa-grusu artinya jangan gegabah. Nasehat ini sering disampaikan orangtua
kepada anaknya. “dipikir sing tenang yo Le, ojo grusas-grusu mengko mundak
keliru”. (Dipikir dengan tenang ya Nak, jangan gegabah nanti malah keliru).
Bukan karena hawa nafsu atau karena ingin menunjukkan keberanian, maka semuanya
dilakukan dengan tergesa-gesa. Tentulah hasilnya kurang baik.
Aja
grusa-grusu identik dengan think tank (berpikir
ulang) di era yang serba menuntut cepat. Nasehat ini sering dianggap kuno, ketinggalan jaman. Tidak mengikuti prinsip “siapa cepat, dia yang
dapat”. Padahal filosofi jawa ini bukan berarti klemar-klemer atau
santai. Tapi menekankan kepada kecermatan, ketepatan, kewaspadaan, dan
berhati-hati.
Seringkali
karena terlalu cepat mengambil keputusan, kita dapat mengalami kerugian besar,
yang mungkin tak dapat dipulihkan dalam waktu yang singkat. Misalnya ditawari
terhadap investasi karena tergiur untung yang besar. Percaya pada sebuah janji
dalam media sosial tanpa ditelusuri dari mana janji itu muncul. Karena cara
berfikirnya tergesa-gesa, tidak hati-hati dan tidak masuk akal, banyak orang
yang tertipu.
Kecerobohan
akibat terburu-buru dalam mengambil keputusan, menjadi awal dari datangnya
banyak masalah dan bencana. Perhatikan baik-baik tiap langkah. Selaraskan
dengan rencana Tuhan dan tetap berpegang pada ketetapan-Nya. Ambillah waktu
untuk mempertimbangkan dan berserah diri pada Tuhan.
Bahan
bacaan: “Pitutur Luhur Jawa. Ajaran hidup dalam Serat Jawa” Karya Asti Musman.

Posting Komentar untuk "Aja Grusa-grusu"