Antroposentrisme

 

Istilah "antroposentrisme" berasal dari bahasa Yunani, di mana "anthropos" berarti manusia dan "kentron" berarti pusat. Jadi, secara harfiah, antroposentrisme berarti "manusia sebagai pusat."

Antropsentrisme adalah sebuah pandangan atau etika lingkungan yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta. Boleh dikatakan bahwa pandangan antroposentrisme (segala sesuatu di dunia ini: hewan, tumbuhan, ekosistem) hanya kan bernilai bila berguna atau bermanfaat untuk kepentingan manusia. Nilai tertinggi adalah manusia dan kepentingannya. Dengan ciri-ciri

  1. Manusia sebagai pusat peran. Manusia dianggap sebagai spesies paling penting dibanding dengan spesies lain.
  2. Nilai berpusat pada manusia. Alam dan isinya dianggap sebagai obyek, alat atau sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. 
  3. Manusia mendominasi atas alam. Ada keyakinan bahwa manusia memiliki hak untuk mendominasi, menguasai, dan memanfaatkan alam sesuai kepentingannya
  4. Fokus untuk kesejahteraan manusia. Nilai pertimbangan utamanya adalah sumber ekonomi.

Dalam gelombang sejarah, kurva pertama menunjukkan bahwa pemikir besar seperti: Aristoteles, Thomas Aquinas, Rene Descartes dan Immanuuel Kant mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membentuk cara pandang antroposentris.

Era Renaisans dan Abad Pencerahan, manusia diberikan posisi istimewa atau mandat untuk mengelola dan menaklukkan bumi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, yang memberikan manusia kemampuan luar biasa untuk mengubah lingkungan, juga turut memperkuat pandangan ini.

Dalam perjalanan, pengikut antroposentris mendapat kritik yang tajam, karena terlalu  memberi mandap kepada manusia. Sementara sisi lain diabakan. Mereka yang tergabung dalam komunitas lingkungan hidup memberikan penilaian bahwa antroposentris sebagai penyebab kerusakan alam.

Antroposentris memberikan cek kosong, sehingga menyebabkan timbulnya eksploitasi sumber daya yang berlebihan, perusakan hutan dan pemusnah spesies.

Melihat dampak negatif antroposentrisme, banyak pakar lingkungan mencari alternatif pandangan agar lebih holistik:

  1. Biosentrisme, yaitu memperluas nilai intrinsik tidak hanya pada manusia, tetapi pada semua makhluk hidup. Artinya, setiap bentuk kehidupan memiliki hak untuk ada dan dihargai.
  2. Ekosentrisme,yang menyatakan bahwa seluruh ekosistem, termasuk komponen hidup dan non-hidup (tanah, air, udara), memiliki nilai intrinsik. Manusia dipandang sebagai bagian integral dari jaring kehidupan yang saling tergantung, bukan sebagai penguasa.
  3. Kosmosentrisme, yaitu pandangan moderat yang cukup luas. Pengakuan akan nilai pada seluruh alam semesta.

 

Posting Komentar untuk "Antroposentrisme"