Apa yang mesti kita lakukan ditengah membanjirnya informasi di Televisi ataupun media sosial. Informasi dapat menjadi viral bukan semata kebenarannya. Informasi menjadi hangat, manakala perpaduan isi pesan, emosi manusia dan mekanisme media, dapat dikemas secara sederhana. Siapapun dapat menangkap informasi itu dengan mudah.
Namun
masalahnya, fakta di lapangan membuktikan menurunnya kemampuan berfikir kritis,
terpengaruh opini emosional, menerima hoax secara mentah, yaitu ketika tidak
sempat memverifikasi kebenaran.
Tiap
hari kita disuguhi dengan berita konflik horizontal dan polarisasi sosial.
Masyarakat tersekat-sekat dalam “ruang gema” (echo chamber). Orang hanya
mengkonsumsi informasi yang menguatkan keyakinan. Dialog menjadi ruang saling serang,
bukan saling paham.
Henny
Saptatia Drajati Nugrahani, seorang pengajar dari Universitas
Indonesia menawarkan empat langkah, agar kita tidak salah kaprah dalam memanfaatkan informasi.
Pertama,
media massa harus kembali kepada peran sebagai gatekeeper, atau
mekanisme yang bertugas menyaring, memilih, dan menentukan informasi apa yang
boleh diteruskan kepada publik dan apa yang harus ditahan. Nara sumber yang
dihadirkan memiliki track record yang meyakinkan, berwawasan ilmiah
bukan popularitas.
Pakar
yang handal antara lain: sering terlibat dalam riset, memiliki pengalaman yang
sesuai dengan topik dan berkiprah lama dalam bidang tersebut. Rekam jejak yang terverifikasi,
bila berbicara berdasarkan data dan dokumen yang resmi. Tidak mengandalkan
opini pribadi.
Kedua,
podcaser perlu mengikuti etika produksi konten yang jelas. Produser dan
host bertanggung jawab menguji klaim dan meminta klarifikasi pada nara sumber.
Seorang
Podcaser harus memiliki kejujuran dan akurasi informasi. Menyampaikan
informasi berdasarkan fakta, bersedia mengoreksi secara terbuka dan tidak
menghapus tanpa klarifikasi. Tidak memotong nara sumber, menghormati perbedaan
pendapat, dan meminta izin sebelum merekam atau menayangkan.
Ketiga,
akademisi dan profesor yang aktif hadir di ruang publik seharusnya menghadirkan
analisis berbasis data yang akurat, kerangka teoritik yang solid, dan terbuka
terhadap munculnya dialektika dari kalangan akademisi lainnnya. Hal ini akan
mempersempit pseudo-expert (ahli palsu atau ahli semu) yaitu orang yang
tampak seperti ahli, mengaku sebagai ahli, atau diberi label ahli, tetapi
sebenarnya tidak memiliki kompetensi.
Keempat,
publik didorong untuk mengasah literasi kritis: menilai siapa yang berbicara,
dasar argumentasi, dan sejauh mana klaim mengakui kompleksitas fenomena dan
peristiwa, serta bersikap kritis pada ketidakpastian informasi.

Posting Komentar untuk "Teliti sebelum Menyerap Informasi"