Muraqabah adalah pintu menuju makrifat. Tanpa merasa diawasi, mustahil
seseorang bisa mencapai kedekatan yang hakiki. Syekh Abdul Qadir
al-Jailani
Secara etimologi, muraqabah berasal
dari akar kata raqaba yang berarti menjaga, mengamati, atau menanti.
Dalam tradisi tasawuf dan akhlak, muraqabah adalah sebuah kondisi
spiritual di mana seorang hamba memiliki kesadaran penuh bahwa Allah SWT
senantiasa mengawasi dirinya di setiap waktu, tempat, dan keadaan. “Sungguh
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (an Nisa [4]: 1)
Konsep Muraqabah
Muraqabah ini berakar dari hadis Jibril yang
sangat masyhur mengenai definisi Ihsan:
"Hendaklah engkau beribadah kepada Allah
seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia
melihatmu." (HR.
Muslim)
Inilah inti dari muraqabah: perasaan
terus-menerus bahwa kita berada di bawah "radar" Ilahi.
- Merasa dilihat oleh Allah
dalam setiap keadaan
- Menyadari tidak ada yang
tersembunyi dari-Nya, bahkan isi hati
- Hidup dengan rasa diawasi,
bukan diawasi manusia, tetapi oleh Allah
Apabila ketiga indikator di atas
telah dilakukan oleh seorang hamba, maka akan menghasilkan batin
- Hati menjadi hidup dan peka
- Muncul malu kepada Allah
- Terbentuk kejujuran sejati
KH Miftachul Akhyar, dalam
sebuah pengajian mengatakan: "Orang yang muraqabah adalah orang yang
selalu waspada dan tidak pernah terlena kewaspadaannya. Kalau waspada merasa
diawasi oleh Allah, maka akan terjadi kedisiplinan hidup,"
"Allah Maha Dzohir, ala kulli syaiin,
muroqib yang waspada sekali. Apa yang dilakukan oleh CCTV itu masih banyak
kelemahan, tetapi Allah Maha Tahu sedetail-detailnya melihat kita, di manapun
kita berada, walaupun kita ada di bunker-bunker yang berlapis-lapis dalamnya
tidak ada yang tahu, Allah Maha Tahu, Jika diri seseorang dapat menyinari dan
menguasai hati, maka hati tidak akan berhenti, hati akan terus berjalan”.
Muraqabah bukanlah hasil instan, melainkan
buah dari latihan (riyadhah) yang konsisten:
Dzikir Sirr (Batin): Senantiasa mengulang
dalam hati kalimat seperti "Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah
menyaksikanku.". Tafakkur: Merenungi kebesaran Allah melalui alam
semesta dan kesempurnaan pengaturan-Nya atas hidup kita. Muhasabah: Melakukan
evaluasi diri di penghujung hari untuk melihat sejauh mana kita
"hadir" bersama Allah dalam aktivitas seharian. Muraqabah bukan
berarti kita meninggalkan dunia, melainkan membawa kesadaran ketuhanan ke dalam
setiap urusan duniawi kita.
Bahan
Bacaan: “Menyelami Spiritualitas Islam. Jalan Menuju Jati Diri” karya
Samsuddin Ar Razi

Posting Komentar untuk "Muraqabah"