Kata
munafik berasal dari kata nafaka, nifaqan yang artinya mengadakan,
mengambil bagian dalam. Dalam pengertian umum, munafik adalah orang yang
lahirnya menyatakan beriman padahal hatinya kufur. Di lidah mengaku takut dan
tunduk kepada Allah, padahal sesungguhnya mereka penentang yang sangat gigih.
Dalam
al Qur’an kata nafaqan dengan berbagai bentuknya disebutkan 110 kali,
masing-masing 73 kali untuk memberi nafkah, 37 kali yang berarti kemunafikan
dan sekali yang bermakna lubang. Orang munafik, dalam al qur’an disebutkan
dalam enam kelompok. Keenam golongan itu antara lain disebutkan dalam surat:
Al
Baqarah
Ada
dua katagori yang disebutkan dalam surat al Baqarah. Katagori pertama termaktub
di ayat 8 – 20. Allah hanya menyebutkan secara garis besarnya saja. Yaitu
membahas tentang karakter kemunafikan, faktor penyebab, dan perumpamaan orang
munafik. Kepadanya Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.
Grup
yang kedua tercatat dalam ayat 204 – 206. Pada bagian ini Allah mengingatkan
kembali kepada kaum mukmin untuk bersikap waspada. Peringatannya berupa sikap
keburukan orang munafik yang tidak sekedar berdusta atau menghina, namun mulai
masuk wilayah penentang yang paling keras terhadap Allah.
Ali
Imran
Dalam
surat Ali Imran, pembahasan mengenai kaum munafik tersebut dalam ayat 165
– 168. Meskipun hanya empat ayat, Allah memberi clue yang lebih nyata, yaitu
saat terjadi kekalahan perang Uhud. Lebih jauh, Allah menampilkan lebih
gamblang tentang sifat orang munafik dengan menghadirkan
kejahatan-kejahatannya. Bukan hanya mengancam dengan siksa yang pedih,
namun telah menyejajarkan dengan kaum kafir.
An
Nisa
Dalam
surat an Nisa ini, al Qur’an membagi kalangan munafiq menjadi tiga bagian,
yaitu dalam ayat 77 – 83, 88 – 91, dan 137 – 147. Kedudukan kaum munafik
memasuki babak baru yaitu cara-cara mereka bergaul. Proses pergaulan dengan
masyarakat dengan jalan menyusup dalam sebuah komunitas. Langkah ini diambil
setelah orang munafik gagal mengobarkan permusuhan dengan Rasulullah dan
sahabatnya.
Sebagai
contoh, mereka enggan untuk pergi berperang. Sehingga Allah sampai memberi
keleluasaan kepada kaum muslimin untuk memerangi kebusukannya. Karena kaum
munafik gemar mempermainkan status keimanan dan mendustainya.
Al
Hasyr
Khusus
ayat 11 – 17, Allah memperlihatkan sisi lain kemunafikan pengikut Abdullah ibn
ubay yang mengkhianati kawan sendiri. Dari peristiwa itu, Allah
mengingatkan bahwa sikap munafik itu bukan hanya ditujukan kepada umat Islam
semata, tetapi kepada siapa saja tanpa kecuali. Dengan kata lain, bila
seseorang telah terjangkiti virus nifaq, pasti akan mengorbankan siapa
saja, termasuk kawan sendiri.
At
Taubah
Dalam
ayat 42 – 47, pembicaraan kaum munafik mendapat porsi yang sangat besar. Al
Qur’an telah mencatat watak dan karakter khas mereka, yaitu sangat mementingkan
diri sendiri. Mereka ikut berjuang, dengan pertimbangan bila terasa mudah dan
menguntungkan. Untuk menutupi sikap buruknya, mereka mengajukan dalih yang
mengada-ada. Tujuannya satu, yaitu menghindari perang.
Al
Munafiqun
Surat
ini dinamakan al Munafiqun, karena didalamnya mengungkap sifat-sifat orang
munafik. Asbabun nuzul Ayat 1 – 8 adalah berkaitan dengan Abdullah bin Ubay.
Bila diperinci, ayat 1 – 3 Allah membuka tabir kemunafikan mereka, dengan
menyebut keimanan mereka itu hanya perisai untuk membela diri. Sedangkan ayat 5
– 8 Allah menegaskan, bahwa tidak ada pintu maaf bagi orang-orang munafik,
meski dimintakan ampun. Karena Allah tidak berkenan memberi petunjuk kepada
orang-orang fasik.
Bahan
bacaan: “Bahaya Sifat Munafik” karya Ahmad Haikal, MA

Posting Komentar untuk "Munafik"