Doomscrolling (atau kadang disebut doompacing) adalah istilah modern
yang menggambarkan kebiasaan seseorang untuk terus-menerus menggulir (scrolling) layar media sosial
atau situs berita demi membaca berita-berita buruk, negatif, atau depresif,
meskipun informasi tersebut membuat mereka merasa cemas, sedih, atau frustrasi.
Petty S. Fatimah, dalam
tulisannya di platform kompas.id edisi 30 Mei 2026, menulis tentang kebiasaan
menggunakan gadget. Ada jutaan orang (mungkin saya dan pembaca) membuka
aplikasi yang rasanya baru sebentar, tahu-tahu hari sudag pagi. Mata perih dan
kita tidak tahu persis apa sebenarnya yang baru saja kita konsumsi berjam-jam
itu. Bukan informasi, bukan pula hiburan yang memulihkan kelelahan. Malah
dengan setengah sadar kita belanja impulsive. Doomscrolling itu terjadi
kapan saja, di mana saja dengan berbagai alasan yang terasa tak masuk akal.
Dari perspektif teknologi, doomscrolling merupakan desain
sistem yang terukur. Algoritma dirancang untuk selalu berada di platform selama
mungkin. Faktanya, konten yang memicu emosi kuat, seperti kemarahan, ketakutan,
dan kepanikan, mendapatkan interaksi (like, share, comment) jauh lebih tinggi.
Fitur Infinite Scroll (Gulir Tanpa Batas) menghilangkan
"titik berhenti" alami. Di era internet dulu, bila kita mengeklik
halaman berikutnya (Page 2, 3, dst.) yang memberi jeda bagi otak untuk
berpikir. Infinite scroll
memanipulasi psikologi manusia dengan memberikan efek "siapa tahu ada info
penting berikutnya," mirip seperti cara kerja mesin judi slot.
Filsuf keturunan Korea-Jerman, Byung-Chul
Han, melihat fenomena ini sebagai the burnout society. Ia berargumen
bahwa masyarakat modern telah berubah menjadi masyarakat yang ”mengeksploitasi”
dirinya sendiri atas nama produktivitas, stimulasi, dan kehadiran tanpa jeda.
Perilaku ini jelas sangat merugikan untuk
dirinya sendiri dari sisi kesehatan. Bagaimanapun, fisik memiliki kemampuan
terbatas, meskipun telah mengkonsumsi supplemen terbaik. Ada saat interval harus
meredakan aktifitas, agar otak, otot, saraf menyusun kembali kondisi seperti restart.
Tiga langkah yang dapat menghambat
perilaku seseorang terbebas dari doomscrolling.
- Batasi secara digital. Gunakan fitur bawaan seperti Screen Time (iOS) atau Digital Wellbeing (Android) untuk mengunci aplikasi berita/medsos setelah 15–30 menit penggunaan sehari.
- Tulis di pintu kamar tidur “Tempat tidur bebas ponsel”.
- Hilangkan jaringan yang tidak bermanfaat. Unfollow atau mute akun-akun yang terus-menerus menyebarkan kepanikan tanpa solusi, dan ikuti akun yang berfokus pada edukasi atau hobi.

Posting Komentar untuk "Doomscrolling"