Ada Hak untuk Orang lain

“Sesungguhya yang akan menolong dan memberi rezeki kalian adalah orang-orang yang lemah di antara kalian”

Kita sering lupa bahwa banyak tetangga di samping kiri kanan kita hidupnya lebih susah, dan kita mengabaikan. Cuma gagahsenyum tiap pagi yang mengelabui kita. Sapaan mereka sesungguhnya basa-basi agar tampak bahagia. Padahal mereka sedang berjuang makan apa hari ini. Mereka sedang membahagiakan anak-anaknya agar lelap dalam tidurnya.

Berapa kali kita menyaksikan persemian gedung baru yang terlihat gagah diantara bangunan lama. Para tamu undangan dengan sabar menunggu pejabat yang akan meresmikannya. Kita juga dengan sabar menanti para sahabat sebagai mitra kerja. Namun kita tak ingat, ada berapa tangan-tangan kasar yang menyulam menjadi gedung yang megah. Padahal, diantara kuli itu ada yang jatuh tersungkur. Ada berapa kulit kepala yang terpanggang di bawah terik matahari, dan ada berapa darah yang tumpah akibat tersayat alat-alat bangunan.

Ketika kita sedang mengendarai kendaraan bersama keluarga, melaju dengan kecepatan tinggi, mempercepat laju kendaraan dengan harapan lekas sampai tujuan. Siapakah mereka yang membuat jalan? Siapakah yang menghaluskan jalan sehingga nyaman untuk dipakai? Berapa tangan yang melepuh akibat terkena percikan aspal?

Merekalah para pejuang keluarga. Berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar yaitu pangan, papan, dan kesehatan. Menghadapi kerentanan terhadap krisis ekonomi, bencana, atau pemutus hubungan kerja (PHK). Bekerja di sektor informal tanpa kepastian hukum atau perlindungan sosial yang memadai.

Sesungguhnya hidup kita atas perjuangan mereka. Sungguh tidak ada kenikmatan tanpa jasa-jasa orang lain, bahkan kita tidak mengenal mereka. Dialah “orang-orang” lemah yang telah berjasa menapaki jalan panjang untuk menghantarkan sepiring nasi di atas meja hidangan. Pantaslah pesan Rasulullah SAW di atas. Sebuah pesan suci agar kita tidak melupakan jasa dan keberadaan mereka.

Adakah yang masih ingat, siapa yang berjasa membantu proses kelahiran dari ibu? Adakah yang masih ingat, siapa yang memperkenalkan kita bernyanyi? Mengenal huruf dan angka? Kita juga mungkin lupa bahwa sepiring nasi yang tersaji setiap hari merupakan proses panjang. Sejak disemai benih padi oleh para petani, digiling, dikeringkan, diangkut ke pasar hingga menjadi sepiring hidangan yang siap disantap.

Pantaslah Allah mengingatkan bahwa ciri-ciri orang betaqwa, salah satunya adalah menyisihkan sebagian hartanya untuk orang lain. Mereka meminta atau tidak meminta. Wajar, bila Allah menghardik kepada yang rajin beribadah tapi mengabaikan kaum mustad’afin.

Bahan bacaan “Materi Kultum” oleh KH. Toto Tasmara

Posting Komentar untuk "Ada Hak untuk Orang lain"