“Akan datang suatu zaman yang ketika Islam dianggap
asing, seperti pertama kali ia datang. Maka berbahagialah wahai orang asing (al
ghuraba) yaitu orang-orang yang menghidupkan sunnaku” (HR
Muslim)
Al-Ghuraba adalah istilah Arab yang secara harfiah berarti "orang-orang yang
asing" (bentuk jamak dari Gharib). Namun, dalam istilah syariat dan
ajaran Islam, Al-Ghuraba adalah sebutan mulia bagi kelompok kaum
muslimin yang konsisten memegang teguh ajaran Islam yang murni, di tengah
kondisi zaman ketika ajaran agama mulai ditinggalkan, dilupakan, atau dianggap
aneh oleh mayoritas manusia.
Ungkapan "Thuba lil Ghuraba"
(Maka beruntunglah atau kebahagiaanlah bagi orang-orang yang asing)
adalah kalimat kabar gembira dan pujian dari Nabi SAW untuk mereka. Thuba diitafsirkan
oleh para ulama (seperti Imam Nawawi) sebagai surga, nama pohon di surga
yang perjalanannya 100 tahun, keberuntungan, atau bentuk kebaikan dan
kebahagiaan abadi. Sedangkan al Ghuraba adalah orang-orang asing atau minoritas
yang konsisten memperbaiki diri dan memperbaiki ajaran agama saat manusia lain
mengabaikannya.
Para sahabat Nabi pernah bertanya kepada
Rasulullah SAW ketika mendengar hadis tersebut. "Wahai Rasulullah,
siapakah Al-Ghuraba itu?" Nabi SAW menjelaskan ciri-ciri mereka antara
lain:
- Memegang Teguh Sunnah. Konsisten menjalankan ajaran Islam yang benar ketika banyak orang meninggalkannya.
- Memperbaiki Kerusakan. Berusaha melakukan perbaikan saat kondisi sosial atau moral manusia sedang rusak. "Mereka adalah orang-orang saleh yang berada di tengah-tengah mayoritas orang yang buruk (rusak). Orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang menaati mereka." (HR. Ahmad)
- Sabar dalam Keterasingan. tidak merasa gentar atau malu walau dipandang aneh oleh mayoritas orang yang jauh dari nilai agama. Mereka memiliki pegangan hidup:
- Asing dalam Akhlak & Tauhid: Ketika kemaksiatan, kesyirikan, atau penyimpangan moral menjadi hal biasa di masyarakat, mereka yang memilih jujur, menjaga kesucian, dan bertauhid akan terlihat "aneh".
- Asing dalam Ketaatan: Memegang teguh ajaran Islam di zaman fitnah rasanya seperti menggenggam bara api—terasa berat dan kerap mendapat cibiran atau tekanan sosial.
- Asing dalam Prinsip: Mereka tidak mengikuti arus mayoritas hanya karena jumlahnya banyak, melainkan mengikuti apa yang benar menurut Al-Qur'an dan Sunnah.
Menjadi bagian dari Al-Ghuraba bukan berarti kita mengisolasi diri dari masyarakat atau bersikap sombong atau merasa paling suci.

Posting Komentar untuk "al Ghuraba"