Orang Yunani dan Romawi Kuno, filsafat bukan cuma teori di atas kertas, melainkan dipakai untuk panduan dalam meniti hidup dan mencari kebahagiaan. Maka muncullah sebuah komunitas yang menamakan dirinya stoik atau orang yang menganut filsafat stoa. Ajaran ini membimbing mereka untuk tetap tenang di tengah kekacauan, fokus pada hal yang bisa dikontrol, dan menerima hal yang tidak bisa dikontrol.
Disamping berburu kebahagiaan, tatanan sosial saat itu membutuhkan sistem sosial dan hukum. Masyarakat membutuhkan rasa aman dan keadilan. Maka terbitlah filsafat yang menata etika, moral, hubungan antar manusia. Model masyarakat seperti ini dipraktekkan oleh orang Tiongkok.
Lama kelamaan model masyarakat yang demikian dirasa membosankan, karena sifat manusia ingin terus berburu agar hidup lebih mudah. Tradisi lama yang mengandalkan kekuatan otot terdesak dengan kemajuan akal manusia. Semula kebutuhan pakaian hanya diproduksi dengan alat pemintal sederhana. Orang kemudian berpikir bagaimana agar alat pemintal ini diproduksi secara masal dan cepat. Demikian juga teknologi pertanian dan transportasi. Muncullah era revolusi industri.
Kelak dikemudian hari, diakui bahwa revolusi industri melahirkan kemudahan bagi manusia untuk mempermudah pekerjaan yang menuntut prinsip efektif dan efisien. Industri juga memperingan kinerja manusia sehingga mendapatkan hasil yang optimal. Revolusi industri merupakan daya akal manusia yang tidak pernah puas dengan keadaan. Meskipun pada akhirnya revolusi industri dikritik atau bahkan diusir dari tanah leluhurnya.
Revolusi industri datang karena manusia tidak mampu lagi "meredakan" akal yang terus bergejolak dalam menyikapi keadaan. Di Inggris, industri lahir dan berkembang sejak tahun 1760. Embrio ini dipicu oleh semangat pencerahan (enlightenment) dari pemikir-pemikir hasil produk pendidikan yang semakin maju. John Locke, Isaac Newton dan Francis Bacon memiliki pemikiran yang searah, yaitu "alam dapat dipakai untuk eksperimen". Orang jadi berani membongkar alam. Dari situ lahir mesin uap James Watt, mesin pemintal. Ilmu bukan lagi buat debat di gereja, tapi buat bikin pabrik.
Alasan para ilmuwan mampu berbuat sesuatu karena hasil didikan dari filsafat Scolastik, yang saat itu masih berjaya. Para siswa tidak lagi percaya “kebenaran datang dari al Kitab dan Bapak Gereja. Kebenaran harus diuji pakai akal. Kalau tidak masuk logika, maka ditolak”.
Mereka yang tak mau bergerak masih ngotot dengan prinsip “Aristoteles saja bilang begitu, jadi pasti benar”, harus berhadapan dengan kelompok yang progersif, yang mempunyai motto “Bahkan, Aristoteles saja masih bisa salah. Kita uji pakai nalar kita”. Inilah yang melahirkan teori Adam Smith “Pasar bebas, kerja keras, akumulasi modal”. Maka lahirlah Liberalisme dan Kapitalisme.
Lahirnya revolusi industri memang harus dibayar mahal yang menyebabkan pertikaian antara golongan Protestan di Inggris dan gereja Katolik di Roma. Peristiwa yang bermula dari adu konsep yang lambat laun berubah menjadi adu fisik. Ratusan ribu manusia menjadi korban.
Raja Henry VIII (Kerajaan Inggris) menolak untuk diatur oleh Paus. Catatan sejarah memang menuliskan bahwa Gereja Katolik Roma memiliki peranan yang sangat dominan untuk menentukan arah perpolitikan Inggris maupun nagara-negara Eropa lainnya.
Dari yang semula serba dogmatis, warna berubah menjadi andalan akal. Laju revolusi industry tak terbendung. Dunia seakan menjadi lebih cepat. Muncul golongan-golongan baru yang lahir akibat liberalisme. Revolusi industry menggelinding tanpa pernah ada yang memberhentikan. Akibatnya muncul gejala-gejala sosial yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.
Bila ditelusuri dengan seksama terbitlah sebuah garis melingkar. Filsafat mengatakan tanpa semangat menguasai alam, orang tidak sampai memikirkan mesin uap. Sebaliknya industri mengungkap: setelah melihat pabrik, lahir polusi, dan kemiskinan, untuk apa tujuan kemajuan? Apa harga dari kemajuan?
Sumber bacaan: “Sejarah Revolusi Industri” karya Anisa Septianingrum, M. Pd.

Posting Komentar untuk "Timbal Balik Filsafat dan Revolusi Industri"