Wulang
artinya
ajaran, sedangkan reh adalah perintah atau tujuan. Secara harfiah
berarti "ajaran tentang tata cara atau aturan bertingkah laku", Sri
Susuhunan Pakubuwana IV Kasunan Surakarta adalah pencipta Wulangreh. Dijuluki
Sunan Bagus karena naik tahta pada usia muda dan berwajah tampan. Banyak
pujangga yang mengakui kepiawaian beliau sebagai pujangga. Ranggawarsito
mengakui banyak belajar ilmu dari beliau.
Wulangreh
adalah
ajaran moral yang sebenarnya ditujukan kepada anak-anaknya. Maka, ada yang
menganggap bahwa karya beliau hanya diperuntukkan di kalangan terbatas, yaitu
kraton. Tembang seperti Pangkur, Sinom, Pocung, dan Gambuh
merupakan petunjuk bagi generasi muda, bangsawan, maupun masyarakat umum agar
memiliki watak yang luhur, rendah hati, bijaksana, serta tidak mudah tergiur
oleh sifat sombong (angkara murka).
Fahruddin
Faiz dalam bukunya Filsafat Moral, mencoba menyandingkan
ajaran Wulangreh dengan Psikologi Moral karya dari Lawrence Kohlberg, Etika
Masa Depan nya Hans Jonas dan Etika Religiusnya al Ghazali. Siapapun
orangnya dalam berperilaku, etika moral adalah landasannya.
Filsafat
moral, yang juga disebut etika memiliki pertanyaan yang mendasar, “Bagaimana
seharusnya aku hidup dan bertindak”. Bukan pada mana yang boleh, mana yang
dilarang sebagaimana hukum tata negara.
Sebagaimana
seorang raja, Sunan Bagus memiliki tanggungjawab moral yang besar
terutama kepada anak keturunannya. Melalui tulisan-tulisannya ia berharap agar
anak keturunannya dapat menjadi teladan untuk orang lain.
Ajaran
lewat tembang-tembangnya dapat diambil inti sarinya antara lain:
Memilih
Guru dan Sahabat
Melalui
tembang Dhandanggula dan Kinanthi, menegaskan pentingnya berguru
pada orang yang tepat dan selektif dalam memilih teman. Kedua figur itu yang
menentukan jati diri seseorang. Seseorang yang tegar dan memegang prinsip yang
benar merupakan arahan seorang guru dan nasehat teman.
Meniadakan
sifat Adigang, Adigung, Adiguna
Bait-bait dalam Pupuh Gambuh memiliki petuah
paling populer dalam tradisi Jawa. Pakubuwana IV memperingatkan manusia agar
terhindar dari tiga kesombongan. Adigang: menjagokan kekuatan fisik, Adigung:
mengandalkan kekuasaan, pangkat, atau keturunan, dan Adiguna: menguasai kepandaian
atau kelicikan otak (diibaratkan seperti kijang).
Mengendalikan
Diri
Manusia diajak untuk melatih olah rasa untuk membatasi
dua nafsu mendasar, makan (dhahar) dan tidur (nendra). Mengurangi
makan dan tidur bukan bentuk penyiksaan diri, melainkan cara mempertajam
kepekaan batin, mengasah empati, serta menjernihkan pikiran dari kabut
keduniawian.
Menghormati
Orang Tua dan Pemimpin
Ketaatan, kesopanan, dan kepatuhan (mranata)
kepada orang tua serta pemimpin adalah fondasi ketertiban sosial. Seorang anak
wajib menjaga martabat orang tua dan menghormati Amanah.
Bahan Bacaan: “Filsafat Moral” karya Dr.
Fahruddin Faiz
Posting Komentar untuk "Wulangreh"