Saya mengenal pramuka sejak kelas 4 Sekolah
Dasar. Saat itu, saya ditawari oleh kakak kelas 6 dan kelas 5 untuk bergabung
pramuka, dengan tujuan mengikuti perkemahan tingkat kecamatan Mojotengah di
lapangan Kalibeber. Saya melihat bahwa mengikuti perkemahan (apalagi tingkat
kecamatan) adalah satu kegiatan untuk meningkatkan status pribadi dan wibawa
bagi seorang pelajar. Bayangan saat itu, masuk sebuah lorong untuk hidup
mandiri.
Sejak bangun tidur, hingga mulai tidur
lagi anak harus siap dengan agenda harian yang dieksekusi bersama. Berarti
memerlukan perencanaan yang cermat, menyusun keseimbangan manajemen barang
bawaan yamg akan dimanfaatkan hari itu. Menata semua agenda yang akan dipikul
bersama untuk memeroleh tujuan yang sama. Butuh pembagian tugas yang
proporsional. Anak dilatih untuk melihat potensi diri maupun teman. Al hasil
sekolah selalu mendominasi kejuaraan baik putra maupun putri. Sampai akhirnya
suatu saat piala harus direnggut oleh SD Blederan.
Di SMP, pramuka merupakan kegiatan ekstra
kurikuler wajib. Setiap siswa harus mengikuti. Setiap regu anggotanya tidak
boleh di kelas yang sama. Harus berbaur. Disinilah uji mental sesungguhnya.
Saya harus bersaing dengan teman-teman kota, yang tentu sudah menguasai lokasi,
sarana, dan kegiatannya. Istilah sekarang sudah menang geopolitik. Selama di
SMP hanya mengenyam 3 kali perkemahan. Persami di sekolah, di Selokromo sebagai
anggota dan di Gunturmadu sebagai dewan (kalau tidak salah).
Kegiatan yang disukai anak-anak adalah
pramuka. Karena disana mengajarkan tentang kemandirian. Bagi kami, terpilih
menjadi tim pramuka untuk mengikuti perkemahan adalah kebanggaan tersendiri.
Apalagi sebagai wakil sekolah untuk mengikuti perkemahan tingkat kabupaten atau
kawedanan. Di pramuka diajarkan juga kerjasama. Inilah yang menjadikan kami,
merasa sama rata.
Kegiatan pramuka yang tidak dapat dilepas
adalah perkemahan. Perkemahan di tingkat kecamatan ataupun kabupaten, ada
ritual yang tidak dapat dihilangkan. Menyusuri sungai atau menyeberang sungai.
Sungai sudah menjadi bagian dari kami sebagai anak lereng gunung. Sungai di
darah kabupaten Wonosobo khususnya, mudah didapat. Tinggal pilih, arus yang
deras atau hanya riak yang mudah untuk dilalui. Sungai di daerah Wonosobo seperti
jamur di musim hujan.
Munculnya sandi atau
semacamnya, karena memang pramuka itu kegiatannya di luar rumah. Alam tidak
menyediakan alat tulis. Alam hanya menyediakan tumbuhan, air, batu dan
lain-lain. Akal manusia tetap terus bergerak. Oleh karenanya dengan barang yang
ada di alam, bagaimana manusia dapat berkomunikasi dengan orang lain melalui
benda yang ada. Terciptalah sandi dan morse.
Sandi Morse diciptakan oleh Samuel
F.B. Morse dan Alfred Vail pada tahun 1835 untuk kebutuhan
komunikasi kawat kabel (telegraf). Kode ini menerjemahkan huruf, angka, dan
tanda baca menjadi kombinasi titik (dot) dan garis (dash) berdasarkan tingkat
frekuensi penggunaan huruf dalam bahasa Inggris. Huruf yang paling sering
muncul seperti "E" diberi simbol paling sederhana, yaitu satu titik.
Dalam gerakan
kepanduan, kode ini diadopsi oleh pendiri Pramuka Dunia, Lord Baden-Powell.
Beliau memasukkan kode Morse ke dalam kurikulum kepanduan karena sifatnya yang
sangat fleksibel untuk situasi darurat dan medan pertempuran atau penjelajahan.
Pesan dapat dikirimkan tanpa alat telegraf modern, melainkan memanfaatkan media
di sekitar:
Hingga kini,
sandi Morse tetap menjadi salah satu kecakapan wajib dalam Pramuka untuk
melatih ketangkasan, ketelitian, dan kemampuan bertahan hidup (survival)
anggota di alam bebas.
Kebiasaan di pramuka ternyata dapat
membawa kebiasaan sehari-hari. Masuk sawah dan hutan memang sudah membudaya
sejak masih anak-anak. Namun untuk masuk hutan di wilayah lain, ini baru
tantangan. Karena melancong merupakan bagian dari hobi saya dan teman-teman,
berangkatlah kami menuju hutan. Ada nuansa tersendiri, kala menyusuri hutan.
Meskipun masih dalam satu wilayah Wonosobo, ternyata kondisi hutannya
lain-lain.
Hiking merupakan
kegiatan keluar masuk hutan. Hutan yang kami masuki, ternyata penuh dengan
buah-buahan. Berbeda dengan yang ada di desa Kalibeber, yang dominan kayu.
Riang gembira kami berjalan setapak demi setapak. Perbekalan yang kami bawa
tidak seberapa banyak. Karena kami yakin, bahwa hutan masih menyediakan cukup
makanan buat kami.
Dalam menjelajah, ada waktunya untuk
istirahat. Biasanya berhenti di sebuah masjid. Disitulah kami berdialog dengan
masyarakat setempat. Kami jadi mengetahui secara persis kebiasaan masyarakat.
Mereka menyambut kami dengan senang hati. Merasa daerahnya dikunjungi oleh
orang lain.
Kebiasaan hiking, juga kami
kembangkan dengan berjalan dari satu daerah ke daerah lain. Saya dan
teman-teman menyusuri jalan antar kota atau antar propinsi. Berani keluar masuk
wilayah kabupaten lain. Kami berjalan tidak menggunakan kendaraan bermotor.
Tetap mengandalkan jalan kaki. Kami merasakan benar indahnya alam.

Posting Komentar untuk "Pramuka"