Suatu kali, teman saya pernah cerita. Kakeknya adalah orang sakti,
demikian pengakuannya. Suatu hari dia sedang duduk santai bersama kakeknya di
sebuah kamar tua yang minim ventilasi, agak pengap. Sebagai pelengkap ada
hidangan penganan dan minuman teh hangat secukupnya. Dalam keasyikan sang kakek
bercerita, tiba-tiba muncul pisang rebus ditengah ketela rebus yang terhidang
dalam piring. Aneh. Padahal tidak orang yang menyuguhkan, nenek sekalipun.
Terpaksa cerita dihentikan. Kakek membuka pisang, namun tidak dimakan.
Hanya senyuman yang muncul disudut bibir. Kakekpun mengatakan kepada temanku,
bahwa baru saja beliau mendapat pesan dari temannya di daerah Kediri. Tidak
diberitahu apa isi pesan itu. Itulah komunikasi yang dibangun oleh kakek
sahabat saya dengan karib yang jaraknya cukup berjauhan. Ilmu apakah yang
digunakan untuk mengirim pesan tadi? Lewat media apa, sehingga pisang rebus
bisa terkirim?
Sepanjang sepengetahuan saya, dulu manusia berkomukasi lewat jasa pos. Sekarangpun
ada orang yang masih setia menggunakan pos, sekalipun yang dahulu menjadi
andalan kantor pos, sekarang sudah mulai ditinggalkan. Anak kos akan kegirangan
manakala mendengar lonceng sepeda khas pak pos. Kantor pos akan selalu ramai,
karena waktu itu menabungpun dapat dilayani. Anak sekolah, mahasiswa, orang
umum, merasa bangga bila keluar-masuk kantor pos. Pegawai pos menjadi sahabat.
Jamanpun bergulir. Di era digital yang sekarang kita rasakan seperti
ini, seakan menggerus kedigdayaan komunikasi konvensional. Internet menjadi
dewa. Handphone dijadikan teman sejati. Foto digital yang pengoperasiannya
lebih mudah, murah dalam pemanfaatan seakan sebagai kebutuhan wajib dalam
keluarga. Televisi yang dapat membagi beberapa layar dengan stasiun yang
berbeda harus bertengger di sudut ruang, sehingga kebutuhan hiburan anggota
keluarga terpenuhi. Tidak lagi rebutan remote control yang hanya ingin tidak
ketinggalan mata acara favoritnya. Dunia menjadi tidak berjarak. Waktu
yang dibutuhkan untuk pengiriman pesan atau berita dalam hitungan detik.
Media yang digunakan dalam jaman internet adalah udara. Satelit
mengirimkan data lewat udara. Stasiun penerima pesan juga lewat transmisi
udara. Udara menjadi arena sirkulasi sinyal-sinyal penghubung antar radio. Ada
pula kabel sebagai penghubung. Namun, ada semangat dari kalangan penggiat
teknologi, bahwa teknologi itu harus nirkabel. Wi-fi disudut-sudut ruang public
bermunculan.
Bila kita bisa melihat sinyal pertukaran data, seperti api
berpijar-pijar. Sudah tidak ada tempat lengang lagi udara yang hanya berisi
oksigen. Gelombang frekuensi menjadi rebutan antar pemilik jasa
internet. Bila kita lihat lebih dalam lagi, bagaimana sirkulasi udara dalam
menampung sinyal yang mengirim dan menerima SMS (Short Massage Service),
stasiun radio, televisi dan masih banyak lagi.
Dibutuhkan keahlian dan ketrampilan yang memadai bila berkomunikasi
dalam era digital ini. Sebagaimana kakek teman saya berkomunikasi dengan rekan
yang ada di Kediri, juga diperlukan ketrampilan. Saya tidak tahu persis ilmu
yang digunakan. Diperlukan juga sarana yang cukup untuk bisa berkomunikasi.
Saya tidak mungkin mengirim SMS kepada sahabat saya, bila teman saya tidak
memiliki sarana dan ketrampilan yang sama dengan apa yang saya punyai. Demikian
pula Anda tidak mungkin membuat postingan dalam sebuah blog, manakala orang
lain tidak mempunyai sarana dan kepandaian dalam membaca tulisan Anda.
Sungguh berbahagia bagi orang yang bisa menyerap ilmu dan ketrampilan lewat media internet. Blog, sangat berperan aktif dalam membuka simpul-simpul otak yang masih terkekang. Sharing dengan rekan dalam sesama komunitas membuka cakrawala berpikir kita. Postingan seorang sahabat yang berada nun jauh disana dapat menyulam hati kita lebih bijaksana. Kirimilah aku ilmu, kirimilah aku pengalaman, kirimilah aku kebijakan yang banyak dan lebih banyak lagi.

Posting Komentar untuk "Virtual"