Tiga Mazhab Filsafat Islam (1)

Seyyed Hossein Nash adalah seorang filosof yang dikenal dengan Jembatan Filsafat. Lahir di tanah Persia, tepatnya di Teheran, Iran, tanggal 7 April 1933. Anak seorang dokter kerajaan (untuk Shah Reza Pahlevi), ulama, dan pendidik yang sangat dihormati. Ayahnya adalah tokoh kunci yang menanamkan kecintaan pada tradisi Persia dan Islam sekaligus apresiasi terhadap sains modern.

Harus dipahami bahwa beliau berdiri di dua kaki. Dibesarkan dalam tradisi Persia dan Islam yang kental dengan sufisme dan filsafat tradisional. Dididik di Barat. Ia lulus dari MIT dalam bidang Fisika dan Geologi, lalu meraih PhD dari Harvard dalam Sejarah Sains dan Filsafat. Namun demikian Nasr tidak mengkritik dunia modern karena ketidaktahuan. Ia mengkritik modernitas dan sains sekuler justru karena ia sangat memahaminya dari dalam, namun ia memilih untuk kembali pada kearifan abadi (Sophia Perennis).

Nash memandang, bahwa Filsafat Islam dapat digolongkan menjadi tiga bagian mazhab utama. Mazhab Ibnu Sina, Mazhab Ibnu Arabi dan Mazhab Suhrawardi dan. Pengklasifian seperti ini sah saja, sebagaimana filsafat barat yang memiliki aliran sendiri. Sebagai contoh, Rasionalisme dengan tokoh Rene Descastez, Empirisme yang dikomandani oleh John Lock atau Postmodernisme dengan nahkodanya Michel Faucault.

Ibnu Sina memiliki komunitas keilmuan tersendiri. Dikenal sebagai “Pangeran Pra Dokter” oleh orang barat. Dalam pandangannya, filsafat bukan sekadar latihan intelektual yang kering. Ia memandang filsafat sebagai jalan spiritual menuju kesempurnaan jiwa. Dari prinsip yang demikian itu, maka lahir karya seperti Asy-Syifa’ (Penyembuhan) dan Al-Isyarat wa at-Tanbihat (Petunjuk-petunjuk dan Peringatan-peringatan.

Pemikiran ini melahirkan filsafat tentang penyempurnaan Jiwa yang dapat digapai lewat kebenaran itu satu dan filsafat hanyalah sebagai jalan. Demikian pula pandangannya tentang pertentangan antara Wajib al Wujud dengan Mumkin al Wujud. Ini adalah sumbangan terbesar Ibnu Sina dalam sejarah filsafat, yang membedakan Tuhan dari makhluk secara logis.

Ibnu Sina juga berpendapat:

Jiwa itu Immaterial. Jiwa bukan bagian dari tubuh. Tubuh hanyalah "kendaraan". Ketika tubuh mati, jiwa tetap hidup dan abadi. Karena jiwa itu abadi, ia akan merasakan kebahagiaan atau penderitaan di akhirat berdasarkan ilmu dan amal yang ia lakukan saat bersatu dengan tubuh.

Perspektif dari Ibnu Sina mendapatkan pengikut sekaligus pengkritik. Murid-murid dan penerus beliau antara lain Ibnu Khayyam penyair nomer wahid dan ahli matematika. Nashir-i Khusraw, seorang filsof syiah Isma’iliyah berdiri di belakangnya, serta Nashiruddin ath-Thusi. Sedang pengkritiknya antara lain Imam al Ghazali dan Fakhrudin ar Razi. Bagaimanapun pengikut atau pengkritik telah membuka wawasan sampai hari ini.

Sumber bacaan: “Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam” karya Seyyed Hossein Nasr

Posting Komentar untuk "Tiga Mazhab Filsafat Islam (1)"