Sudah terlalu sering kita memanfaatkan kata
sibuk. Apalagi kalau janjian. Menentukan waktu pertemuan sering tidak
membuahkan hasil, hanya karena kesibukan. Meeting yang seharusnya
membuahkan hasil yang bermanfaat, tergerus kalimat “tidak dapat bergabung”
dengan alasan sibuk. Seharusnya sibuk bukan sebuah alasan yang tepat. Meskipun
sibuk menjadi menjadi kata kunci dari berhasil atau gagalnya sebuah perjamuan. Kesibukan sering kali
dijadikan simbol status (badge of honor).
Di
tengah kegiatan yang seabreg, dan padat, banyak orang yang menikmati
kehidupan ini jalan terus tanpa sempat berhenti. Ibarat sebuah mesin, bekerja
tak pernah jeda. Pagi sampai sore, bahkan hingga larut malam. Mereka tidak
ingat lagi kapan harus ngecek kondisi diri sendiri. Bangun pagi dengan daftar
tugas yang sederet lengkap dengan waktunya. Pindah dari satu aktivitas ke
aktivitas lainnya. Lalu tiba-tiba hari sudah selesai. Di titik ini, rasa capek
sering dianggap wajar dan diabaikan begitu saja.
Dalam
pandangan psikologi, kesibukan muncul karena:
Avoid
Coping (Pelarian dari Perasaan), yaitu seseorang dengan sengaja menyibukkan
diri untuk menghindari emosi. Gejolak hati yang ditumbulkan karena tidak
nyaman, banyaknya kegiatan yang sia-sia karena kurang tertata, Kecemasan, atau
kejadian masa silam sehingga menyebabkan trauma.
The Busy
Trap (Perangkap Harga Diri) yaitu sebuah perasaan yang mengungkapkan, bahwa jika
tidak sibuk, berarti tidak produktif atau tidak berharga. Ada perasaan takut
bila berhenti sejenak, dikatakan tidak membuahkan hasil. Orang seperti ini
punya keinginan bahwa semua agenda harus cepat diselesaikan.
Namun
apakah harus sembunyi dari realita, hanya karena dikatakan sibuk. Padahal, raga
atau tubuh dan pikiran perlu ada perhatian meski hanya sejenak. Ada hak bagi
tubuh untuk berhenti. Relaksasi, perenggangan, mengatur aliran darah, dan tentu
saja mengatur kembali pikiran. Jeda bekerja dan berfikir harus dijadikan waktu
yang istimewa. Ada keteguhan dan tekad untuk mengatakan “it’s me”.
Di dunia profesional, kesibukan bukanlah
indikator performa. Seorang manajer yang efektif, tidak melihat seberapa
banyak jam untuk bekerja. Tidak memandang seberapa pemanfaatan waktu
dihabiskan, melainkan seberapa besar dampak yang dihasilkan. Si sibuk perlu refresh
ulang dan menemukan arti efektif.
Bila seseorang dihadapkan pada sebuah
pekerjaan, maka si Sibuk akan selalu terlihat terburu-buru, tidak ingat waktu,
dan terfokus pada peralih ke pekerjaan lainnya. Berbeda orang yang menganut
prinsip efisien. Mereka ini menikmati pekerjaan tapi terlihat tidak
tergesa-gesa, pekerjaan rapi dan tersistem.
Orang yang terus-menerus mengeluh sibuk
biasanya gagal membedakan mana yang Penting dan mana yang Mendesak. Penting
adalah tugas yang memiliki tenggat waktu yang lebih leluasa untuk diselesaikan.
Sedangkan mendesak adalah tugas yang memiliki jeda waktu lebih pendek.
Diperlukan tindakan cepat.
Tabel Eisenhower berikut ini dapat dijadikan pedoman dalam melakukan pekerjaan
Posting Komentar untuk "Sibuk"